Minggu, 03 Februari 2013

Urgensi Corporate Values


Oleh ; Faaza Fakhrunnas

Dunia bisnis sempat digemparkan oleh kebangkrutan Eron. Pasalnya, Eron sebelumnya mengklaim memiliki kinerja yang sehat, baik dalam konteks keuangan ataupun manajemen. Namun ternyata, di awal tahun 2000-an, Enron tiba-tiba collepse. Dunia bisnis dikejutkan kebohongan atau manipulasi yang dilakukan Enron dalam memberikan transparansi kondisi perusahaannya. Tidak hanya Enron, perusahaan sekelas Kodak pun mengalami kisah collepse  dalam bisnis di era milenium.  Kodak sempat merajai industri fotografi selama hampir 100 tahun. Kejayaannya sempat terusik dengan hadirnya Fuji Film Photo yang mampu menciptakan produk unggulan sekelas Kodak, namun dengan harga 20% lebih murah dari pada Kodak pada tahun 1984.
 Dan benar saja, pasca tahun 2007, Kodak pun harus gigit jari lantaran mengalami collepse. Hal ini disebebkan karena kodak tidak mampu mentransformasikan produknya di era digital. Kodak terlalu percaya diri bermain dalam pasar kamera berbasis analog. Padahal zaman telah berubah menjadi serba digital. sebenarnya, dalam segi kualitas dan inovasi produk, Kodak tidak ketinggalan. Kodak lah yang pertama kali menemukan kamera digital pada tahun 1975. Sedangkan para pesaingnya hanya menjadi sebagai “perusahaan pengambang” dari produk yang ditemukan Kodak. Namun sekali lagi, penemuan itu tidak direspon Kodak dengan baik. Justru Kodak masih menjual kamera analog lantaran takut kehilangan penadapatan terbesarnya dari penjualan film kamera analog.
Corporate Values yang tergerus
            We work customers and prospects openly, honestly, an sincerely. When we say we will do something, we will do it; when we say we cannot or will not do something, then we don’t do it”, itulah nilai perusahaan yang diusung oleh Enron sejak era tahun 2000-an. Namun sayangnya, tag-line corporate values  tersebut hanya sebatas kata-kata indah semata. Tanpa internalisasi yang dilakukan oleh perusahaan.
            Kodak juga memilik corporate values  dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Setidaknya ada enam core values  yang dimiliki Kodak dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, yakni ; (1) menghormatti martabat individu, (2) integritas yang tidak dapat dikompromikan, (3) kepercayaan, (4) kredibilitas, (5) perbaikan dan permbaruan personal yang terus menerus, dan (6) pengenalan dan perayaan. Namun, sebagaimana Enron, Kodak tidak bisa menjalankan values yang ada dalam perusahaan. Justru, values  yang dimiliki kodak tenoda dengan kredibilitas Kodak yang tidak mampu membaca perubahan zaman yang semakin cepat, ketidak pastian masa depan yang semaking tinggi, dan persaingan bisnis yang semakin ketat. Dan sebenarnya, collepse­-nya kedua perusahaan besar tersebut adalah karena faktor vital perusahaan (core values) yang tidak mampu dijalankan oleh perusahaan dalam melakukan aktivitas bisnisnya (Kasali, 2012).
Urgensi Corporate Values
            Kasali (2012) mendefinsikan values  sebagai kumpulan yang diturunkan dari suatu yang dipercaya (ending belief) dan memberikan kekuatan yang dijalankan. Values  dapat difokuskan pada suatu hasil akhir di masa depan (future end) dan atau tata cara (proses, mean) untuk mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. Jadi yang kemudian patut dicermati adalah, value  merupakan jiwa “bagaimana” perusahaan harus bergerak. Sedangkan values  itu sendiri mencerminkan filosofi perusahaan dari sebuah esensi yang ada. Ketika values  mengetahaui “bagaimana” perusahaan harus bergerak, maka disaat yang sama  perusahaan pun akan sebenarnya telah mengetahui “kenapa” ia harus bergerak.
            Dalam pembuatan values, yang harus menjadi catatan penting adalah pekerjaan perusahaan tidak selesai ketika values itu dibuat. Namun, values yang dibuat juga harus bisa dimengerti oleh seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Yang tidak kalah penting dan menjadi perhatian utama adalah, valuesyang telah ditetapkan perusahaan juga harus terus dilatih. Tentutnya, proses pelatihan tersebut tidak lepas dari usaha perusahaan untuk menginternalisasikanvalues yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari proses pelatihan tersebut lah, perilaku SDM terbentuk dengan apa yang diharapkan sebelunya. Lewat proses pelatihan tersebut, perilaku SDM kan terbentuk dengan baik. Dengan kebiasaan perilaku, maka akan terbentuk sebuah budaya. Sehingga, ketika menghadapi situasi apapun dalam dinamika bisnis, maka esensi sikap yang dilakukan akan sesuai dengan values perusahaan.
            Namun terkadang, values sedikit banyak bertentangan dengan profit yang bisa perusahaan raih secara maksimal. Misalkan saja dalam perusahaan pertambangan, perusahaan bisa saja mengekplorasi secara “membabi buta” sumber daya alam yang ada untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Tentunya hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Namun menurut survei yang ada, perusahaan yang menekankan pada maksimalisasi profit akan berumur lebih pendek dibandingkan dengan perusahaan yang lebih menekankan kepada values yang ada (Kasali, 2012). Hal ini dikarenakan, pada suatu titik tertentu, perusahaan yang lebih menekankan pada maksimalisasi profit tanpa values, akan menglamai disorientasi pola gerak perusahaan dan mendapatkan reputasi yang buruk dalam dunia bisnis.
            Di tingkat global, banyak perusahaan-perusahaan yang mampu merelevansikan dirinya dengan dinamika bisnis yang ada. Proses relevansi yang dilakukan tidak bisa dilepaskan dari values yang dianut perusahaan. Beberapa contoh perusahaan global yang mempu mempertahankan values-nya dengan baik adalah Toraya (Jepang), Stora Kopparberg (Swedia), dan Faber Castel (Jerman). Perusahaan-perusahaan tersebut adalah perusahaan yang telah berumur ratusan tahun, dan tetap mengguanakan values sebagai landasan gerak perusahaan, meskipun telah mengalami banyak perubahan zaman.

0 komentar:

Posting Komentar