Oleh
; Faaza Fakhrunnas
Awal April 2011 dunia perpolitikan
Indonesia dikagetkan dengan ulah salah satu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) pada saat rapat paripurna berlangsung. Salah seornang wartawan Media
Indonesia mendapati Arifinto, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS sedang menonton
vidio porno. Dikutip dari Vivanews.com, berbagai reaksi keras pun bermunculan
dari kasus tindakan melanggar moral tertsebut. Salah satunya datang dari Wakil
Sekretaris Jendral DPP PPP yang menyatakan bahwa, "Partai-partai berbasis
agama akan mendapat hukuman lebih besar dari masyarakat jika dibandingkan
partai sekuler yang melakukan (hal serupa)".
Hampir dua tahun setelah itu, publik
pun digegerkan kembali dengan ulah korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan.
Kali ini, Presiden PKS , Lutfi Hasan Ishak ditetapkan menjadi tersangka kasus
suap daging impor pada akhir Januari lalu. Penetapan ini cukup mengagetkan
publik lantaran Lutfi Hasan Ishak adalah kader PKS pertama yang ditetapkan
menjadi tersangkan dalam tindak pidana korupsi sejak partai ini beridiri pada
tahun 2002. Tidak heran, kasus partai yang mengusung image bersih ini pun mendapat tanggapan keras dari berbagai pihak.
Seperti dikutip dalam Rakyat Merdeka Online Direktur Eksekutif Indonesian
Constitutional Watch (Icon) Razman Arif Nasution mengatakan, "Saya sedih
bahkan menangis mendengarnya. Karena ini sudah mencoreng Islam. Selama ini
Islam dikaitkan dengan teroris, sekarang korupsi”.
Idealisme PKS
Dalam
AD/ART PKS dikatakan bahwa Partai Keadilan Sejahtera adalah Partai
Da'wah yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera yang
diridlai Allah Subhanahu Wata'ala, dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila. Kemudian dari tujuan tersebut langkah-langkah
usaha pun dibangun PKS untuk merealisasikan tujuan yang ada. Usaha-usaha
tersebut adalah membebaskan bangsa Indonesia dari segala bentuk kezaliman,
membina masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islami, mempersiapkan bangsa
Indonesia agar mampu menjawab berbagai problema dan tuntutan masa mendatang,
membangun sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sesuai dengan
nilai-nilai Islam, dan membangun negara Indonesia baru yang adil, sejahtera dan
berwibawa.
Derap langkah nilai yang coba dibangun oleh PKS yang selanjutnya melahirkan
kegiatan-kegiatan seperti halnya halaqoh
dan lain sebagainya. Dalam konteks penampilan fisik, kader PKS pun ikut
dibangun. Para petinggi partai kebanyakan berjenggot tipis dan untuk perempuan,
menggunakan jilbab besar menutup dada. Hal ini semakin menguatkan kesan bahwa
PKS adalah partai dakwah dan menjadi represtasi dari ummat Islam religius di
Indonesia.
Namun, kesan islami yang melekat pada PKS dinodai dengan kegiatan amoral
yang dilakukan oleh Arifinto dan Lutfi Hasan Ishak. Hal ini sangat menurunkan
wibawah PKS dimata publik. Bagaimana tidak, dua orang tersebut adalah petinggi
PKS yang menjadi tolak ukur kematangan seorang kader dalam melaksanakan amanat
partai. Apalagi, Lutfi Hasan Ishak adalah presiden partai yang menjadi lokomotif
partai dalam bergerak. Sehingga, dalam konteks internal partai saat ini, PKS
sedang tergoncang hebat. Sedangkan dimata publik, masa depan PKS sedang diujung
tanduk.
Perilaku amoral yang dilakukan oleh petinggi partai memang bukan yang
pertama terjadi di Indonesia. Namun, ini punya pengecualian. Perilaku amoral
tersebut terjadi pada partai Islam yang notabene tergolong “masih suci” jika
dipandang dari track record partai bergambar
dua untaian sabit dan padi tegak lurus tersebut. multiple effect-nya pun sudah jelas, elaktibilitas PKS akan menurun
seiring dengan kerusakan nilai akibat ulah beberapa petinggi PKS seperti yang
dijelaskan sebelumnya. Dan lebih lagi, jika penurunan values yang dibangun PKS
selama ini terus terjadi, maka PKS bisa menjadi partai Islam yang unmarketable.
Masa Depan PKS
Sebenarnya, ada hal yang
patut di apresiasi dari kasus yang dialami Arifinto dan Lutfi Hasan Ishak,
yakni kemampuan untuk berjiwa besar. Tidak lama setelah kasus Arifinto dan Lutfi
Hasan Ishak mencuat di pemberitaan media, keduanya menyatakan mundur dari
jabatan partai dan parlemen. Sementara itu, kemunduran yang dinyatakan oleh
Lutfi Hasan Ishak mendapat tanggapan cepat dari Dewan Syuro PKS yang dalam
selang waktu satu hari, telah menetapkan presiden baru PKS, yakni Anis Matta.
Dalam pidato politiknya, Anis Matta menyatakan bahwa kader PKS mencintai
Lutfi Hasan Ishak. Hal itu diutarakan dalam forum pasca terpilihnya ia sebagai
Presiden PKS. Dalam pidato politik Anis Matta juga disambut dengan teriakan-teriakan
takbir yang dilakukan oleh kader PKS. Dan tidak sedikit pula, Kader PKS
mengeluarkan air mata tanda berkabung atas kasus berat yang sedang menimpa partai.
Jika dianalisa, sikap partai dalam
menghadapi kasus yang menimpai partai sedikit banyak mencerminkan masih
solidnya PKS dalam bergerak. Hal ini menjadi pembeda jika dibandingkan
kader-kader partai lain yang terkena kasus amoral. Sebut saja Partai Demokrat
yang justru menimbulkan konflik internal partai dari kasus Hambalang. Tidak
hanya itu, dukungan moral yang dilakukan PKS pun tidak didapati di partai lain.
hal ini dicerminkan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa seluruh kader PKS
mencintai Lutfi Hasan Ishak.
Cara bertindak PKS dalam merespon kasus yang menghimpit partai sedikit
banyak menunjukan kualitas partai yang ada. Dalam sudut pandang penulis,sekali
lagi, setidaknya kesolidan partai masih tercermin dari kesatuan langkah yang
dilakukan PKS dalam menghadapi kasus yang menimpa partai. Dan ini merupakan
modal yang kuat untuk membangun kembali partai yang sempat jatuh. Tidak hanya
sampai disitu, pembangunan yang dilakukan oleh PKS pun harus diiringi dengan
pembangunan kembali values. Dan hal
tersebutlah yang seharusnya menjadi perhatian utama petinggi partai. Fokus pada
values membuat organisasi mampu berubah dan cepat
pulih setelah melewati masa-masa penuh tantangan (Kasali, 2012). Secara
kekinian, penilaian publik saat ini sangat bergantung dari seberapa bermoralkah
sebuah partai dalam berpolitik. Karena dalam memimpin sebuah negara pun butuh
moral, maka politik bermoral tidak bisa dilepaskan dari hal tersebut. Apalagi,
publik semakin cerdas dalam memilih seiring dengan bertambahnya jumlah kelas
menengah yang melek politik.



0 komentar:
Posting Komentar