Minggu, 03 Februari 2013

PKS Unmarketable ?



Oleh ; Faaza Fakhrunnas

            Awal April 2011 dunia perpolitikan Indonesia dikagetkan dengan ulah salah satu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada saat rapat paripurna berlangsung. Salah seornang wartawan Media Indonesia mendapati Arifinto, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS sedang menonton vidio porno. Dikutip dari Vivanews.com, berbagai reaksi keras pun bermunculan dari kasus tindakan melanggar moral tertsebut. Salah satunya datang dari Wakil Sekretaris Jendral DPP PPP yang menyatakan bahwa, "Partai-partai berbasis agama akan mendapat hukuman lebih besar dari masyarakat jika dibandingkan partai sekuler yang melakukan (hal serupa)".
            Hampir dua tahun setelah itu, publik pun digegerkan kembali dengan ulah korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan. Kali ini, Presiden PKS , Lutfi Hasan Ishak ditetapkan menjadi tersangka kasus suap daging impor pada akhir Januari lalu. Penetapan ini cukup mengagetkan publik lantaran Lutfi Hasan Ishak adalah kader PKS pertama yang ditetapkan menjadi tersangkan dalam tindak pidana korupsi sejak partai ini beridiri pada tahun 2002. Tidak heran, kasus partai yang mengusung image bersih ini pun mendapat tanggapan keras dari berbagai pihak. Seperti dikutip dalam Rakyat Merdeka Online Direktur Eksekutif Indonesian Constitutional Watch (Icon) Razman Arif Nasution mengatakan, "Saya sedih bahkan menangis mendengarnya. Karena ini sudah mencoreng Islam. Selama ini Islam dikaitkan dengan teroris, sekarang korupsi”.
Idealisme PKS
            Dalam AD/ART PKS dikatakan bahwa Partai Keadilan Sejahtera adalah Partai Da'wah yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera yang diridlai Allah Subhanahu Wata'ala, dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Kemudian dari tujuan tersebut langkah-langkah usaha pun dibangun PKS untuk merealisasikan tujuan yang ada. Usaha-usaha tersebut adalah membebaskan bangsa Indonesia dari segala bentuk kezaliman, membina masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islami, mempersiapkan bangsa Indonesia agar mampu menjawab berbagai problema dan tuntutan masa mendatang, membangun sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan membangun negara Indonesia baru yang adil, sejahtera dan berwibawa.
Derap langkah nilai yang coba dibangun oleh PKS yang selanjutnya melahirkan kegiatan-kegiatan seperti halnya halaqoh dan lain sebagainya. Dalam konteks penampilan fisik, kader PKS pun ikut dibangun. Para petinggi partai kebanyakan berjenggot tipis dan untuk perempuan, menggunakan jilbab besar menutup dada. Hal ini semakin menguatkan kesan bahwa PKS adalah partai dakwah dan menjadi represtasi dari ummat Islam religius di Indonesia.
Namun, kesan islami yang melekat pada PKS dinodai dengan kegiatan amoral yang dilakukan oleh Arifinto dan Lutfi Hasan Ishak. Hal ini sangat menurunkan wibawah PKS dimata publik. Bagaimana tidak, dua orang tersebut adalah petinggi PKS yang menjadi tolak ukur kematangan seorang kader dalam melaksanakan amanat partai. Apalagi, Lutfi Hasan Ishak adalah presiden partai yang menjadi lokomotif partai dalam bergerak. Sehingga, dalam konteks internal partai saat ini, PKS sedang tergoncang hebat. Sedangkan dimata publik, masa depan PKS sedang diujung tanduk.
Perilaku amoral yang dilakukan oleh petinggi partai memang bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Namun, ini punya pengecualian. Perilaku amoral tersebut terjadi pada partai Islam yang notabene tergolong “masih suci” jika dipandang dari track record partai bergambar dua untaian sabit dan padi tegak lurus tersebut. multiple effect-nya pun sudah jelas, elaktibilitas PKS akan menurun seiring dengan kerusakan nilai akibat ulah beberapa petinggi PKS seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dan lebih lagi, jika penurunan values  yang dibangun PKS selama ini terus terjadi, maka PKS bisa menjadi partai Islam yang unmarketable.
Masa Depan PKS
            Sebenarnya, ada hal yang patut di apresiasi dari kasus yang dialami Arifinto dan Lutfi Hasan Ishak, yakni kemampuan untuk berjiwa besar. Tidak lama setelah kasus Arifinto dan Lutfi Hasan Ishak mencuat di pemberitaan media, keduanya menyatakan mundur dari jabatan partai dan parlemen. Sementara itu, kemunduran yang dinyatakan oleh Lutfi Hasan Ishak mendapat tanggapan cepat dari Dewan Syuro PKS yang dalam selang waktu satu hari, telah menetapkan presiden baru PKS, yakni Anis Matta.
Dalam pidato politiknya, Anis Matta menyatakan bahwa kader PKS mencintai Lutfi Hasan Ishak. Hal itu diutarakan dalam forum pasca terpilihnya ia sebagai Presiden PKS. Dalam pidato politik Anis Matta juga disambut dengan teriakan-teriakan takbir yang dilakukan oleh kader PKS. Dan tidak sedikit pula, Kader PKS mengeluarkan air mata tanda berkabung atas kasus berat yang sedang menimpa partai.
Jika dianalisa,  sikap partai dalam menghadapi kasus yang menimpai partai sedikit banyak mencerminkan masih solidnya PKS dalam bergerak. Hal ini menjadi pembeda jika dibandingkan kader-kader partai lain yang terkena kasus amoral. Sebut saja Partai Demokrat yang justru menimbulkan konflik internal partai dari kasus Hambalang. Tidak hanya itu, dukungan moral yang dilakukan PKS pun tidak didapati di partai lain. hal ini dicerminkan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa seluruh kader PKS mencintai Lutfi Hasan Ishak.
Cara bertindak PKS dalam merespon kasus yang menghimpit partai sedikit banyak menunjukan kualitas partai yang ada. Dalam sudut pandang penulis,sekali lagi, setidaknya kesolidan partai masih tercermin dari kesatuan langkah yang dilakukan PKS dalam menghadapi kasus yang menimpa partai. Dan ini merupakan modal yang kuat untuk membangun kembali partai yang sempat jatuh. Tidak hanya sampai disitu, pembangunan yang dilakukan oleh PKS pun harus diiringi dengan pembangunan kembali values. Dan hal tersebutlah yang seharusnya menjadi perhatian utama petinggi partai. Fokus pada values  membuat organisasi mampu berubah dan cepat pulih setelah melewati masa-masa penuh tantangan (Kasali, 2012). Secara kekinian, penilaian publik saat ini sangat bergantung dari seberapa bermoralkah sebuah partai dalam berpolitik. Karena dalam memimpin sebuah negara pun butuh moral, maka politik bermoral tidak bisa dilepaskan dari hal tersebut. Apalagi, publik semakin cerdas dalam memilih seiring dengan bertambahnya jumlah kelas menengah yang melek politik.





0 komentar:

Posting Komentar