Oleh
: Rafikha Dwi Hikmayani
Tahun
2008 adalah tahun dimana Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota
pengekspor minyak bumi terbesar di dunia hanya tinggal sejarah pusaka. Mengapa?
Karena, tahun 2008 merupakan tahun yang menandai bahwa Indonesia telah keluar
dari Organization of the
Petroleum Exporting Countries (OPEC). Realitas menunjukkan Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi oil exporting country dalam arti nett yang betul-betul kita
mengekspor lebih banyak, justru sebaliknya Indonesia menjadi oil importing country
yang tidak sedikit mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Beberapa tahun terakhir tingkat
konsumsi BBM di Indonesia semakin meningkat. Ini tidak terlepas dari
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia yang kian hari kian padat. Kemudian
ditunjang tingkat permintaan energi dari beberapa sektor ; seperti sektor industri,
sektor transportasi, dan sektor rumah tangga. Ketiganya memiliki pengaruh besar
dalam cadangan minyak bumi namun dari tiga sektor di atas sektor
transportasilah yang sangat banyak menggunakan cadangan BBM kemudian diikuti
sektor rumah tangga.
Perlu kita ketahui bahwa cadangan
minyak bumi dinyatakan dalam dua kategori yaitu cadangan potensial dan cadangan
terbukti. Dalam empat tahun terakhir cadangan terbukti minyak bumi Indonesia
menunjukkan kecenderungan menurun sedangkan cadangan potensial menunjukkan
kecenderungan meningkat. Secara keseluruhan (potensial dan terbukti) cadangan
minyak bumi Indonesia cenderung menurun
Penurunan cadangan minyak bumi
diakibatkan oleh laju produksi minyak bumi lebih tinggi dibanding dengan laju
penemuan cadangan minyak bumi baru. Dengan cadangan terbukti sebesar 3,75 miliar barel dan tingkat produksi saat
ini, yaitu sekitar 1 juta barel per hari (365 juta barel per tahun), maka
reserve to production ratio, (R/P) cadangan Indonesia 12 tahun. Bila
mempertimbangkan cadangan potensial 4,47 miliar barel, rasio R/P mencapai 22
tahun (Pusdatin, 2009). Selain besaran cadangan, potensi minyak bumi suatu
negara juga diindikasikan oleh besaran sumberdaya. Sumberdaya minyak bumi
Indonesia diperkirakan sekitar 56,6 milliar barrel.
Persediaan minyak bumi di
Indonesia bisa dikatakan melemah. Berdasarkan acuan data statistik minyak bumi
2011, permintaan energi menurut jenisnya saat ini masih didominasi oleh BBM
(39,1%) diikuti oleh biomassa (27,2%), batubara (15,6%), gas (8,8%), listrik
(7,7%) dan LPG (1,5%). BBM masih menjadi pilihan energi terbaik untuk
masyarakat Indonesia, namun kenyataannya pengetahuan masyakrakat Indonesia akan
menurunnya cadangan minyak sangat minim. Belum lagi jebolnya kuota konsumsi
masyarakat Indonesia yang meningkat tajam. Bisa kita lihat pada tahun 2011
pemerintah menetapkan anggaran BBM bersubsidi sebesar 41,27 juta kl namun
realisasinya pada tahun 2012 melonjak menjadi 45, 27 juta kl. Jika
dipersentasikan naik rata-rata sebesar 8%. Pemerintah yang berusaha untuk
menjaga stabilitas perekonomian Indonesia yang saat ini kian cenderung
meningkat dikhawatirkan dengan masalah BBM. Dikabarkan bahwa persediaan BBM
subsidi tahun 2013 sebesar 46,1 juta kl diperkirakan akan jebol menjadi 49,3
juta kl.
Wacana kenaikan harga BBM yang selalu muncul saat harga
minyak mentah dunia meroket- acapkali memicu pro kontra. Atas nama inflasi dan
rakyat miskin, sejumlah kalangan, termasuk mayoritas anggota DPR, menolak keras
kenaikan harga BBM. Mereka khawatir, kenaikan harga BBM akan memicu inflasi
tinggi dan inflasi tinggi akan menyengsarakan rakyat miskin, melahirkan orang
miskin baru, mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK), dan mengganggu
stabilitas ekonomi makro. Kenaikan harga BBM kerap mendorong aksi demonstrasi
yang biasanya disusupi oleh berbagai kepentingan politik. Jika masyarakat
Indonesia terus memandang dari sisi tersebut lambat laun pertumbuhan ekonomi
akan mengalami deficit.
Dalam pemerataannya kita juga bisa
melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia mengenai konsumsi BBM yang tidak
menunjukkan keadilan. Dalam hal ini pelaku konsumen BBM ber-subsidi adalah
kategori bukan rakyat termiskin. Padahal kita tahu, bahwa BBM subsidi digunakan
untuk masyarakat lapisan menengah ke bawah. Lagi-lagi realitas menunjukkan
lapisan menengah ke-atas masih menikmati secara serakah BBM bersubsidi ini.
Belum lagi permasalahan yang menunjukkan penyeludupan BBM oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab.
Selagi pemerintah dan masyarkat
belum bisa memberikan alternatif untuk pemakaian energi selain BBM sebaiknya kenaikan BBM
perlu dilakukan. Mengingat ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perekonomian
Indonesia. Jika tidak kita melakukan penyesuaian terhadap kenaikan BBM ini maka
kemungkinan terburuk pada masa mendatang kita akan mengalami krisis energy.
Apalagi menurut Direktur Center for
Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi mencatat, nilai impor
BBM dan minyak mentah Indonesia setiap tahunnya bisa mencapai US$ 35 miliar
atau Rp 1 triliun per hari. Dengan nilai yang demikian besar, bukan hanya
menyedot devisa negara yang pada akhirnya juga membuat neraca perdagangan
Indonesia menjadi defisit.
Pemerintah perlu berperan aktif
dalam pembangunan infrastruktur energi (sektor pembangkit dan distribusi
listrik, transportasi batubara, kilang minyak, pipa gas bumi, SPBG, receiving
terminal LNG dll.). Peran tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk investasi
maupun penerapan regulasi yang mendorong pembangunan infrastruktur energi. Pemerintah juga harus
segera melakukan sosialisasi kenaikan BBM dengan menyebutkan beberapa alasan
penting mengapa harga BBM harus naik. Dengan demikian Indonesia tetap bisa
menjaga stabilitas pereonomian dan bersaing di tingkat dunia.
Oleh
: Rafikha Dwi Hikmayani
Tahun
2008 adalah tahun dimana Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota
pengekspor minyak bumi terbesar di dunia hanya tinggal sejarah pusaka. Mengapa?
Karena, tahun 2008 merupakan tahun yang menandai bahwa Indonesia telah keluar
dari Organization of the
Petroleum Exporting Countries (OPEC). Realitas menunjukkan Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi oil exporting country dalam arti nett yang betul-betul kita
mengekspor lebih banyak, justru sebaliknya Indonesia menjadi oil importing country
yang tidak sedikit mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Beberapa tahun terakhir tingkat
konsumsi BBM di Indonesia semakin meningkat. Ini tidak terlepas dari
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia yang kian hari kian padat. Kemudian
ditunjang tingkat permintaan energi dari beberapa sektor ; seperti sektor industri,
sektor transportasi, dan sektor rumah tangga. Ketiganya memiliki pengaruh besar
dalam cadangan minyak bumi namun dari tiga sektor di atas sektor
transportasilah yang sangat banyak menggunakan cadangan BBM kemudian diikuti
sektor rumah tangga.
Perlu kita ketahui bahwa cadangan
minyak bumi dinyatakan dalam dua kategori yaitu cadangan potensial dan cadangan
terbukti. Dalam empat tahun terakhir cadangan terbukti minyak bumi Indonesia
menunjukkan kecenderungan menurun sedangkan cadangan potensial menunjukkan
kecenderungan meningkat. Secara keseluruhan (potensial dan terbukti) cadangan
minyak bumi Indonesia cenderung menurun (Gambar 1.1)

Penurunan cadangan minyak bumi
diakibatkan oleh laju produksi minyak bumi lebih tinggi dibanding dengan laju
penemuan cadangan minyak bumi baru. Dengan cadangan terbukti sebesar 3,75 miliar barel dan tingkat produksi saat
ini, yaitu sekitar 1 juta barel per hari (365 juta barel per tahun), maka
reserve to production ratio, (R/P) cadangan Indonesia 12 tahun. Bila
mempertimbangkan cadangan potensial 4,47 miliar barel, rasio R/P mencapai 22
tahun (Pusdatin, 2009). Selain besaran cadangan, potensi minyak bumi suatu
negara juga diindikasikan oleh besaran sumberdaya. Sumberdaya minyak bumi
Indonesia diperkirakan sekitar 56,6 milliar barrel.
Persediaan minyak bumi di
Indonesia bisa dikatakan melemah. Berdasarkan acuan data statistik minyak bumi
2011, permintaan energi menurut jenisnya saat ini masih didominasi oleh BBM
(39,1%) diikuti oleh biomassa (27,2%), batubara (15,6%), gas (8,8%), listrik
(7,7%) dan LPG (1,5%). BBM masih menjadi pilihan energi terbaik untuk
masyarakat Indonesia, namun kenyataannya pengetahuan masyakrakat Indonesia akan
menurunnya cadangan minyak sangat minim. Belum lagi jebolnya kuota konsumsi
masyarakat Indonesia yang meningkat tajam. Bisa kita lihat pada tahun 2011
pemerintah menetapkan anggaran BBM bersubsidi sebesar 41,27 juta kl namun
realisasinya pada tahun 2012 melonjak menjadi 45, 27 juta kl. Jika
dipersentasikan naik rata-rata sebesar 8%. Pemerintah yang berusaha untuk
menjaga stabilitas perekonomian Indonesia yang saat ini kian cenderung
meningkat dikhawatirkan dengan masalah BBM. Dikabarkan bahwa persediaan BBM
subsidi tahun 2013 sebesar 46,1 juta kl diperkirakan akan jebol menjadi 49,3
juta kl.
Wacana kenaikan harga BBM yang selalu muncul saat harga
minyak mentah dunia meroket- acapkali memicu pro kontra. Atas nama inflasi dan
rakyat miskin, sejumlah kalangan, termasuk mayoritas anggota DPR, menolak keras
kenaikan harga BBM. Mereka khawatir, kenaikan harga BBM akan memicu inflasi
tinggi dan inflasi tinggi akan menyengsarakan rakyat miskin, melahirkan orang
miskin baru, mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK), dan mengganggu
stabilitas ekonomi makro. Kenaikan harga BBM kerap mendorong aksi demonstrasi
yang biasanya disusupi oleh berbagai kepentingan politik. Jika masyarakat
Indonesia terus memandang dari sisi tersebut lambat laun pertumbuhan ekonomi
akan mengalami deficit.
Dalam pemerataannya kita juga bisa
melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia mengenai konsumsi BBM yang tidak
menunjukkan keadilan. Dalam hal ini pelaku konsumen BBM ber-subsidi adalah
kategori bukan rakyat termiskin. Padahal kita tahu, bahwa BBM subsidi digunakan
untuk masyarakat lapisan menengah ke bawah. Lagi-lagi realitas menunjukkan
lapisan menengah ke-atas masih menikmati secara serakah BBM bersubsidi ini.
Belum lagi permasalahan yang menunjukkan penyeludupan BBM oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab.
Selagi pemerintah dan masyarkat
belum bisa memberikan alternatif untuk pemakaian energi selain BBM sebaiknya kenaikan BBM
perlu dilakukan. Mengingat ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perekonomian
Indonesia. Jika tidak kita melakukan penyesuaian terhadap kenaikan BBM ini maka
kemungkinan terburuk pada masa mendatang kita akan mengalami krisis energy.
Apalagi menurut Direktur Center for
Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi mencatat, nilai impor
BBM dan minyak mentah Indonesia setiap tahunnya bisa mencapai US$ 35 miliar
atau Rp 1 triliun per hari. Dengan nilai yang demikian besar, bukan hanya
menyedot devisa negara yang pada akhirnya juga membuat neraca perdagangan
Indonesia menjadi defisit.
Pemerintah perlu berperan aktif
dalam pembangunan infrastruktur energi (sektor pembangkit dan distribusi
listrik, transportasi batubara, kilang minyak, pipa gas bumi, SPBG, receiving
terminal LNG dll.). Peran tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk investasi
maupun penerapan regulasi yang mendorong pembangunan infrastruktur energi. Pemerintah juga harus
segera melakukan sosialisasi kenaikan BBM dengan menyebutkan beberapa alasan
penting mengapa harga BBM harus naik. Dengan demikian Indonesia tetap bisa
menjaga stabilitas pereonomian dan bersaing di tingkat dunia.



0 komentar:
Posting Komentar