Minggu, 03 Februari 2013

Perlunya Kenaikan Harga BBM



Oleh : Rafikha Dwi Hikmayani

Tahun 2008 adalah tahun dimana Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota pengekspor minyak bumi terbesar di dunia hanya tinggal sejarah pusaka. Mengapa? Karena, tahun 2008 merupakan tahun yang menandai bahwa Indonesia telah keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Realitas menunjukkan Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi oil exporting country dalam arti nett yang betul-betul kita mengekspor lebih banyak, justru sebaliknya Indonesia menjadi oil importing country yang tidak sedikit mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Beberapa tahun terakhir tingkat konsumsi BBM di Indonesia semakin meningkat. Ini tidak terlepas dari bertambahnya jumlah penduduk Indonesia yang kian hari kian padat. Kemudian ditunjang tingkat permintaan energi dari beberapa sektor ; seperti sektor industri, sektor transportasi, dan sektor rumah tangga. Ketiganya memiliki pengaruh besar dalam cadangan minyak bumi namun dari tiga sektor di atas sektor transportasilah yang sangat banyak menggunakan cadangan BBM kemudian diikuti sektor rumah tangga.
Perlu kita ketahui bahwa cadangan minyak bumi dinyatakan dalam dua kategori yaitu cadangan potensial dan cadangan terbukti. Dalam empat tahun terakhir cadangan terbukti minyak bumi Indonesia menunjukkan kecenderungan menurun sedangkan cadangan potensial menunjukkan kecenderungan meningkat. Secara keseluruhan (potensial dan terbukti) cadangan minyak bumi Indonesia cenderung menurun 

Penurunan cadangan minyak bumi diakibatkan oleh laju produksi minyak bumi lebih tinggi dibanding dengan laju penemuan cadangan minyak bumi baru. Dengan cadangan terbukti sebesar  3,75 miliar barel dan tingkat produksi saat ini, yaitu sekitar 1 juta barel per hari (365 juta barel per tahun), maka reserve to production ratio, (R/P) cadangan Indonesia 12 tahun. Bila mempertimbangkan cadangan potensial 4,47 miliar barel, rasio R/P mencapai 22 tahun (Pusdatin, 2009). Selain besaran cadangan, potensi minyak bumi suatu negara juga diindikasikan oleh besaran sumberdaya. Sumberdaya minyak bumi Indonesia diperkirakan sekitar 56,6 milliar barrel. 
Persediaan minyak bumi di Indonesia bisa dikatakan melemah. Berdasarkan acuan data statistik minyak bumi 2011, permintaan energi menurut jenisnya saat ini masih didominasi oleh BBM (39,1%) diikuti oleh biomassa (27,2%), batubara (15,6%), gas (8,8%), listrik (7,7%) dan LPG (1,5%). BBM masih menjadi pilihan energi terbaik untuk masyarakat Indonesia, namun kenyataannya pengetahuan masyakrakat Indonesia akan menurunnya cadangan minyak sangat minim. Belum lagi jebolnya kuota konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat tajam. Bisa kita lihat pada tahun 2011 pemerintah menetapkan anggaran BBM bersubsidi sebesar 41,27 juta kl namun realisasinya pada tahun 2012 melonjak menjadi 45, 27 juta kl. Jika dipersentasikan naik rata-rata sebesar 8%. Pemerintah yang berusaha untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia yang saat ini kian cenderung meningkat dikhawatirkan dengan masalah BBM. Dikabarkan bahwa persediaan BBM subsidi tahun 2013 sebesar 46,1 juta kl diperkirakan akan jebol menjadi 49,3 juta kl.
Wacana kenaikan harga BBM yang selalu muncul saat harga minyak mentah dunia meroket- acapkali memicu pro kontra. Atas nama inflasi dan rakyat miskin, sejumlah kalangan, termasuk mayoritas anggota DPR, menolak keras kenaikan harga BBM. Mereka khawatir, kenaikan harga BBM akan memicu inflasi tinggi dan inflasi tinggi akan menyengsarakan rakyat miskin, melahirkan orang miskin baru, mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK), dan mengganggu stabilitas ekonomi makro. Kenaikan harga BBM kerap mendorong aksi demonstrasi yang biasanya disusupi oleh berbagai kepentingan politik. Jika masyarakat Indonesia terus memandang dari sisi tersebut lambat laun pertumbuhan ekonomi akan mengalami deficit.
Dalam pemerataannya kita juga bisa melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia mengenai konsumsi BBM yang tidak menunjukkan keadilan. Dalam hal ini pelaku konsumen BBM ber-subsidi adalah kategori bukan rakyat termiskin. Padahal kita tahu, bahwa BBM subsidi digunakan untuk masyarakat lapisan menengah ke bawah. Lagi-lagi realitas menunjukkan lapisan menengah ke-atas masih menikmati secara serakah BBM bersubsidi ini. Belum lagi permasalahan yang menunjukkan penyeludupan BBM oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selagi pemerintah dan masyarkat belum bisa memberikan alternatif untuk pemakaian energi selain BBM sebaiknya kenaikan BBM perlu dilakukan. Mengingat ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Jika tidak kita melakukan penyesuaian terhadap kenaikan BBM ini maka kemungkinan terburuk pada masa mendatang kita akan mengalami krisis energy. Apalagi menurut Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi mencatat, nilai impor BBM dan minyak mentah Indonesia setiap tahunnya bisa mencapai US$ 35 miliar atau Rp 1 triliun per hari. Dengan nilai yang demikian besar, bukan hanya menyedot devisa negara yang pada akhirnya juga membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit.
Pemerintah perlu berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur energi (sektor pembangkit dan distribusi listrik, transportasi batubara, kilang minyak, pipa gas bumi, SPBG, receiving terminal LNG dll.). Peran tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk investasi maupun penerapan regulasi yang mendorong pembangunan infrastruktur energi.  Pemerintah juga harus segera melakukan sosialisasi kenaikan BBM dengan menyebutkan beberapa alasan penting mengapa harga BBM harus naik. Dengan demikian Indonesia tetap bisa menjaga stabilitas pereonomian dan bersaing di tingkat dunia.
 Perlunya Kenaikan Harga BBM
Oleh : Rafikha Dwi Hikmayani

Tahun 2008 adalah tahun dimana Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota pengekspor minyak bumi terbesar di dunia hanya tinggal sejarah pusaka. Mengapa? Karena, tahun 2008 merupakan tahun yang menandai bahwa Indonesia telah keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Realitas menunjukkan Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi oil exporting country dalam arti nett yang betul-betul kita mengekspor lebih banyak, justru sebaliknya Indonesia menjadi oil importing country yang tidak sedikit mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Beberapa tahun terakhir tingkat konsumsi BBM di Indonesia semakin meningkat. Ini tidak terlepas dari bertambahnya jumlah penduduk Indonesia yang kian hari kian padat. Kemudian ditunjang tingkat permintaan energi dari beberapa sektor ; seperti sektor industri, sektor transportasi, dan sektor rumah tangga. Ketiganya memiliki pengaruh besar dalam cadangan minyak bumi namun dari tiga sektor di atas sektor transportasilah yang sangat banyak menggunakan cadangan BBM kemudian diikuti sektor rumah tangga.
Perlu kita ketahui bahwa cadangan minyak bumi dinyatakan dalam dua kategori yaitu cadangan potensial dan cadangan terbukti. Dalam empat tahun terakhir cadangan terbukti minyak bumi Indonesia menunjukkan kecenderungan menurun sedangkan cadangan potensial menunjukkan kecenderungan meningkat. Secara keseluruhan (potensial dan terbukti) cadangan minyak bumi Indonesia cenderung menurun (Gambar 1.1)
Penurunan cadangan minyak bumi diakibatkan oleh laju produksi minyak bumi lebih tinggi dibanding dengan laju penemuan cadangan minyak bumi baru. Dengan cadangan terbukti sebesar  3,75 miliar barel dan tingkat produksi saat ini, yaitu sekitar 1 juta barel per hari (365 juta barel per tahun), maka reserve to production ratio, (R/P) cadangan Indonesia 12 tahun. Bila mempertimbangkan cadangan potensial 4,47 miliar barel, rasio R/P mencapai 22 tahun (Pusdatin, 2009). Selain besaran cadangan, potensi minyak bumi suatu negara juga diindikasikan oleh besaran sumberdaya. Sumberdaya minyak bumi Indonesia diperkirakan sekitar 56,6 milliar barrel. 
Persediaan minyak bumi di Indonesia bisa dikatakan melemah. Berdasarkan acuan data statistik minyak bumi 2011, permintaan energi menurut jenisnya saat ini masih didominasi oleh BBM (39,1%) diikuti oleh biomassa (27,2%), batubara (15,6%), gas (8,8%), listrik (7,7%) dan LPG (1,5%). BBM masih menjadi pilihan energi terbaik untuk masyarakat Indonesia, namun kenyataannya pengetahuan masyakrakat Indonesia akan menurunnya cadangan minyak sangat minim. Belum lagi jebolnya kuota konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat tajam. Bisa kita lihat pada tahun 2011 pemerintah menetapkan anggaran BBM bersubsidi sebesar 41,27 juta kl namun realisasinya pada tahun 2012 melonjak menjadi 45, 27 juta kl. Jika dipersentasikan naik rata-rata sebesar 8%. Pemerintah yang berusaha untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia yang saat ini kian cenderung meningkat dikhawatirkan dengan masalah BBM. Dikabarkan bahwa persediaan BBM subsidi tahun 2013 sebesar 46,1 juta kl diperkirakan akan jebol menjadi 49,3 juta kl.
Wacana kenaikan harga BBM yang selalu muncul saat harga minyak mentah dunia meroket- acapkali memicu pro kontra. Atas nama inflasi dan rakyat miskin, sejumlah kalangan, termasuk mayoritas anggota DPR, menolak keras kenaikan harga BBM. Mereka khawatir, kenaikan harga BBM akan memicu inflasi tinggi dan inflasi tinggi akan menyengsarakan rakyat miskin, melahirkan orang miskin baru, mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK), dan mengganggu stabilitas ekonomi makro. Kenaikan harga BBM kerap mendorong aksi demonstrasi yang biasanya disusupi oleh berbagai kepentingan politik. Jika masyarakat Indonesia terus memandang dari sisi tersebut lambat laun pertumbuhan ekonomi akan mengalami deficit.
Dalam pemerataannya kita juga bisa melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia mengenai konsumsi BBM yang tidak menunjukkan keadilan. Dalam hal ini pelaku konsumen BBM ber-subsidi adalah kategori bukan rakyat termiskin. Padahal kita tahu, bahwa BBM subsidi digunakan untuk masyarakat lapisan menengah ke bawah. Lagi-lagi realitas menunjukkan lapisan menengah ke-atas masih menikmati secara serakah BBM bersubsidi ini. Belum lagi permasalahan yang menunjukkan penyeludupan BBM oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selagi pemerintah dan masyarkat belum bisa memberikan alternatif untuk pemakaian energi selain BBM sebaiknya kenaikan BBM perlu dilakukan. Mengingat ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Jika tidak kita melakukan penyesuaian terhadap kenaikan BBM ini maka kemungkinan terburuk pada masa mendatang kita akan mengalami krisis energy. Apalagi menurut Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi mencatat, nilai impor BBM dan minyak mentah Indonesia setiap tahunnya bisa mencapai US$ 35 miliar atau Rp 1 triliun per hari. Dengan nilai yang demikian besar, bukan hanya menyedot devisa negara yang pada akhirnya juga membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit.
Pemerintah perlu berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur energi (sektor pembangkit dan distribusi listrik, transportasi batubara, kilang minyak, pipa gas bumi, SPBG, receiving terminal LNG dll.). Peran tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk investasi maupun penerapan regulasi yang mendorong pembangunan infrastruktur energi.  Pemerintah juga harus segera melakukan sosialisasi kenaikan BBM dengan menyebutkan beberapa alasan penting mengapa harga BBM harus naik. Dengan demikian Indonesia tetap bisa menjaga stabilitas pereonomian dan bersaing di tingkat dunia.

0 komentar:

Posting Komentar