Oleh: Rafika Dwi Hikmayani
KINI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah mencapai umur yang dikatakan tidak muda lagi. Sudah hampir memasuki umur 66 tahun HMI sebagai salah satu organisasi sipil yang berkiprah di dalam bangsa Indonesia dan juga menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang berkomitmen tinggi terhadap perubahan. Jika ingin beromantisme dengan sejarah, sepak terjang yang dilakukan para pemuda HMI patut diberi apresiasi yang besar. Namun seiring perjalanannya HMI kian larut tenggelam meninggalkan status agent of change.
Eksistensi HMI yang dulunya telah turut mewarnai pergerakan dan perjuangan lambat laun meninggalkan arah gerak garis perjuangan yang sebenarnya. Sumber daya kader yang dimiliki oleh HMI kian jarang melahirkan pemikir-pemikir yang berbasis intelektual. HMI terlalu banyak membela kepiawannya dalam sejarah, juga terlalu banyak tidur dengan bantal, guling, bahkan selimut sejarah. Memang tidak ada salahnya untuk selalu beromantisme dengan sejarah yang dimiliki oleh HMI itu sendiri. Tapi sampai kapan kader-kader yang ada di HMI harus kenyang dengan asupan insulin sejarah namun tidak mampu menciptakan gagasan-gagasan baru? Seharusnya label agent of change pada masing-masing kepribadian jiwa kader tidak terhenti pada titik komisariat saja seharusnya bisa secara kaffah (menyeluruh) menjadi contoh bagi masyarakat.
Lalu apakah arah tujan HMI yang sekarang ini mengalami disorientasi? Penulis di sini berpendapat bahwa disorientasi berasal dari dua kata yaitu dis yang berarti adanya masalah, gangguan, atau kegagalan dalam berorientasi. Orientasi sendiri bisa kita lihat dalam kamus, yaitu: Orientation is a function of the mind involving awareness of three dimensions: time, place and person. Sebut saja dimensi atau perubahan waktu, tempat, dan personal menjadi sebab penulis untuk mengatakan bahwa arah tujuan HMI mengarah pada disorientasi apalagi dimensi itu bisa saja bertambah panjang dan kompleks. Sedangkan kegagalan atau masalah itu bisa bersifat partial, spatial maupun total.
Kegagalan yang dimaksudkan penulis adalah HMI sebagai organisasi sipil yang berbasis indepedensi ini sudah menjadi 'kepentingan-praktis' atau sebagai 'batu loncatan' para kader. Jadi real value yang ada dalam visi HMI terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Maka dari itu banyak para kader yang ada di dalam wadah HMI hanya mampu berteriak menghadirkan wacana yang hanya sekedar wacana dan mengatakan banyak argumen atau solusi bersama untuk menciptakan perubahan namun dalam action-nya sedikit sekali, sangat disayangkan.
Kalau ditimbang-timbang HMI masih sangat mempunyai peluang besar untuk melahirkan para cendikiawan atau pemikir-pemikir yang kadar intelektualitasnya menjamin. Namun sayang, HMI saat ini seakan mandeg pada proses pengkaderan yang berbasis hanya di komisariat. Jika setiap komisariat HMI mempunyai master plans yang orientasinya menuju pada arah mencerdaskan kader untuk berani melangkahkan arah pemikirannya melewati batas pintu komisariat dan mencanangkan pemikiran tersebut dengan real action, penulis menjamin HMI tidak akan menjadi singa ompong atau buaya tanpa taring lagi. HMI sebagai organisasi pengkaderan harusnya gesit untuk berperan aktif merubah keadaan menjadi lebih baik.Disorientasi atau tidaknya arah tujuan HMI itu hanya akan terjawab bagaimana anda memandangi HMI saat sekarang.


