Sabtu, 28 Juli 2012

Realita Umat Islam

SEBAGAI sebuah entitas, umat Islam dihadapkan dengan  kenyataan dilematis. Di satu sisi, semangat berislam di berbagai penjuru dunia terlihat begitu hangat, namun di sisi lain, umat Islam juga menghadapi berbagai tantangan yang cukup rumit. Betul kita memiliki potensi yang sangat dahsyat, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita terkadang—untuk tidak dikatakan sering—kehilangan kebanggaan akan peradaban kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa koreksi.

Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang kebangkrutan Barat.
Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis, Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, “dibangun untuk manusia”. Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah Kebodohannya, mengatakan,  “peradaban Barat hanya berorientasi pada benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya”.

Lagi-lagi, sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya ’rendahan’ Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleksi, koreksi dan sikap kritis. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil hikmah peradaban Barat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Masih dalam konteks yang sama, kita justru sering menutup mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia. Salah satu fenomenalnya peradaban Islam yang diceritakan oleh berbagai sumber sejarah adalah Islam hadir dan mampu menyelamatkan dunia pada abad pertengahan ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age.

Mengenai kemerosotan umat Islam, Rasulullah Saw. memberikan isyarat dalam sebuah hadits beliau. Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw. menjawab,“Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari). Dan Allah Swt. akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw., apakah wahn itu?”Beliau menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad)

Di saat masyarakat atau dunia Islam di seluruh pelosok negeri menderita kerusakan dan kelemahan dalam berbagai bidang kehidupan, para penguasa muslim terjebak dalam kubangan kekuasaan tiranik dan diktatoris. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menginspirasi terjadinya pertumpahan darah antara sesama muslim. Penyebabnya adalah cinta dunia berupa tahta, harta dan wanita serta takut mati. Hal ini terjadi pada beberapa dekade, termasuk zaman perang Salib. Bahkan menurut Majid Irsan Kailani, beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat muslim yang mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa tersebut dicatat oleh Ibnu Jauzi dalam buku sejarahnya al-Muntazham dan Ibnu al-Atsir juga sejarawan lainnya.

Jadi pada realitanya umat Islam sudah terlalu jauh jatuh kedalam pangkuan bangsa Barat saat ini, umat Islam sudah tidak lagi mengedepankan syariat dan amalan yang sebenarnya. Karena semakin majunya zaman ini, semakin umat Islam ikut terpuruk dan semakin terjerumus. Tak lain halnya kekuasaan dan tahta telah membutakan mata hati. Kita telah kehilangan esensi kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, kita seakan tahu itu api kita pura-pura buta. Akankah kecintaan kita terhadap dunia ini mengalahkan tujuan yang sebenarnya, yaitu Allah dan akhirat.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

like it:)

Rafika Dwi mengatakan...

thanks :)

Anonim mengatakan...

pada kenyataannya memang terlihat seperti itu

Bambang mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar