SEBAGAI sebuah entitas, umat Islam dihadapkan
dengan kenyataan dilematis. Di satu sisi, semangat berislam di berbagai
penjuru dunia terlihat begitu hangat, namun di sisi lain, umat Islam juga
menghadapi berbagai tantangan yang cukup rumit. Betul kita memiliki potensi
yang sangat dahsyat, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan
kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita
terkadang—untuk tidak dikatakan sering—kehilangan kebanggaan akan peradaban
kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa
koreksi.
Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan
akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John
Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam
tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang
kebangkrutan Barat.
Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis
keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang
melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis,
Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun
tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut
Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, “dibangun untuk manusia”.
Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah
Kebodohannya, mengatakan, “peradaban Barat hanya berorientasi pada
benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah
memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya”.
Lagi-lagi, sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan
terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya
’rendahan’ Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleksi,
koreksi dan sikap kritis. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil
hikmah peradaban Barat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologinya.
Masih dalam konteks yang sama, kita justru sering menutup
mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia.
Salah satu fenomenalnya peradaban Islam yang diceritakan oleh berbagai sumber
sejarah adalah Islam hadir dan mampu menyelamatkan dunia pada abad pertengahan
ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age.
Mengenai kemerosotan umat Islam, Rasulullah Saw. memberikan
isyarat dalam sebuah hadits beliau. Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah
Saw. bersabda, “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian
seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas
nampan.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apakah saat itu kita (kaum
Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”.
Rasulullah Saw. menjawab,“Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun
kalian hanyalah bak buih di atas air bah (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana
ke mari). Dan Allah Swt. akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh
kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati
kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw.,
apakah wahn itu?”Beliau menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR.
Ahmad)
Di saat masyarakat atau dunia Islam di seluruh pelosok
negeri menderita kerusakan dan kelemahan dalam berbagai bidang kehidupan, para
penguasa muslim terjebak dalam kubangan kekuasaan tiranik dan diktatoris.
Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menginspirasi terjadinya pertumpahan
darah antara sesama muslim. Penyebabnya adalah cinta dunia berupa tahta, harta
dan wanita serta takut mati. Hal ini terjadi pada beberapa dekade, termasuk
zaman perang Salib. Bahkan menurut Majid Irsan Kailani, beberapa buku sejarah
Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap
para penguasa dan masyarakat muslim yang mementingkan urusan pribadi daripada
berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa
tersebut dicatat oleh Ibnu Jauzi dalam buku sejarahnya al-Muntazham dan
Ibnu al-Atsir juga sejarawan lainnya.
Jadi pada realitanya umat Islam sudah terlalu jauh jatuh kedalam pangkuan bangsa Barat saat ini, umat Islam sudah tidak lagi mengedepankan syariat dan amalan yang sebenarnya. Karena semakin majunya zaman ini, semakin umat Islam ikut terpuruk dan semakin terjerumus. Tak lain halnya kekuasaan dan tahta telah membutakan mata hati. Kita telah kehilangan esensi kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, kita seakan tahu itu api kita pura-pura buta. Akankah kecintaan kita terhadap dunia ini mengalahkan tujuan yang sebenarnya, yaitu Allah dan akhirat.