Selasa, 31 Juli 2012

Manusia


"Manusia yang sedang berbicara tentang masalah orang lain sesungguhnya mereka juga bagian dari masalah tersebut "-Imam Zudin-

Benar terkadang manusia itu banyak lupanya. Manusia itu selalu khilaf atas pola pikir mereka yg salah. Terkadang sesuatu yg mereka anggap benar belum tentu benar adanya. Sesuatu yang mereka anggap salah belum tentu juga salah.

Sebagai manusia yang selalu banyak berbuat kesalahan saya termasuk bagian dari orang yang tersebut. Tapi setiap proses mengajarkan saya untuk melihat dan memilah permasalahan yang ada. Tidak saya pungkiri  terkadang apa yang saya anggap benar belum tentu benar di mata yang lain.

Saya sungguh tersentak oleh kalimat yang dikatakan oleh Imam Izudin, saya seperti dibukakan pemikiran baru. Sebuah pemikiran yg kalau saya pikir itu benar. Siapapun itu, yang pernah membicarakan orang lain sesungguhnya mereka juga terlibat dalam masalah tersebut. Dalam kilaf mata apa yang kita lihat dan dengar itu sudah jadi bagian dalam proses hidup kita. Begitu juga masalah. Saya mengerti sebuah kemajuan hati dan iman itu tak bisa didapatkan semudah apa yang kita pikirkan . Tapi hati yang bersih itu butuh pemikiran pelajaran ujian lalu hasil yg kita dapat. Jadi semua itu butuh prosess. Untuk menjadi pribadi yg baik juga butuh proses. Manusia yg pribadinya baik dulu pasti pernah melakukan kesalahan namun dia belajar dari kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi dan menjadi yang lbih baik.

Semoga kita bisa belajar dan terus belajar untuk mencintai kebaikan orang lain. Dan membicarakan kebaikan orang lain. Karena menjelekkan dan menjerumuskan seseorang adalah perbuatan syaitan :)


Rafika's note

Sabtu, 28 Juli 2012

Realita Umat Islam

SEBAGAI sebuah entitas, umat Islam dihadapkan dengan  kenyataan dilematis. Di satu sisi, semangat berislam di berbagai penjuru dunia terlihat begitu hangat, namun di sisi lain, umat Islam juga menghadapi berbagai tantangan yang cukup rumit. Betul kita memiliki potensi yang sangat dahsyat, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita terkadang—untuk tidak dikatakan sering—kehilangan kebanggaan akan peradaban kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa koreksi.

Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang kebangkrutan Barat.
Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis, Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, “dibangun untuk manusia”. Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah Kebodohannya, mengatakan,  “peradaban Barat hanya berorientasi pada benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya”.

Lagi-lagi, sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya ’rendahan’ Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleksi, koreksi dan sikap kritis. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil hikmah peradaban Barat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Masih dalam konteks yang sama, kita justru sering menutup mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia. Salah satu fenomenalnya peradaban Islam yang diceritakan oleh berbagai sumber sejarah adalah Islam hadir dan mampu menyelamatkan dunia pada abad pertengahan ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age.

Mengenai kemerosotan umat Islam, Rasulullah Saw. memberikan isyarat dalam sebuah hadits beliau. Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw. menjawab,“Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari). Dan Allah Swt. akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw., apakah wahn itu?”Beliau menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad)

Di saat masyarakat atau dunia Islam di seluruh pelosok negeri menderita kerusakan dan kelemahan dalam berbagai bidang kehidupan, para penguasa muslim terjebak dalam kubangan kekuasaan tiranik dan diktatoris. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menginspirasi terjadinya pertumpahan darah antara sesama muslim. Penyebabnya adalah cinta dunia berupa tahta, harta dan wanita serta takut mati. Hal ini terjadi pada beberapa dekade, termasuk zaman perang Salib. Bahkan menurut Majid Irsan Kailani, beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat muslim yang mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa tersebut dicatat oleh Ibnu Jauzi dalam buku sejarahnya al-Muntazham dan Ibnu al-Atsir juga sejarawan lainnya.

Jadi pada realitanya umat Islam sudah terlalu jauh jatuh kedalam pangkuan bangsa Barat saat ini, umat Islam sudah tidak lagi mengedepankan syariat dan amalan yang sebenarnya. Karena semakin majunya zaman ini, semakin umat Islam ikut terpuruk dan semakin terjerumus. Tak lain halnya kekuasaan dan tahta telah membutakan mata hati. Kita telah kehilangan esensi kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, kita seakan tahu itu api kita pura-pura buta. Akankah kecintaan kita terhadap dunia ini mengalahkan tujuan yang sebenarnya, yaitu Allah dan akhirat.

Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan is Coming


Sebagai umat muslim yang di sayangi Allah, bukankah bulan-bulan diantara bulan lain Ramdahanlah yang paling di tunggu-tunggu? YA, begitulah jawaban yang paling pantas untuk kita.

"Maka tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbukalah pintu-pintu di syurga".. Tak heran banyak orang-orang yang beriman bernafsu baik untuk mengerjakan amalan dan mengumpulkan pahala-pahala sebanyak mungkin.

Jangan pernah berfikir bahwa Ramadhan adalah bulan yang bikin sengsara, maka berbaliklah berfikir bahwa kemuliaan Allah berlimpah di bulan ini.
Mengapa masih sempat ada yang berfikir bulan Ramadhan adalah bulan sengsara? Apa karna kita gak bisa sarapan pagi? atau makan siang? terlebih lagi bagi ikhwan yang tidak bisa merokok? Rasakanlah dibalik semua itu ada nikmat tersembunyi ketika kita mengerjakannya dengan ikhlas.

Ya Ramadhan bulan yang di muliakan Allah, bukan bulan penderitaan.. Bulan penuh barokah dan bulan yang penuh cinta.. Maka perbanyaklah amalan ibadah.

 Beberapa amalan terbaik yang dapat dilakukan pada bulan Ramadan, antara lain, Pertama, berpuasa. Allah Swt berfirman, “Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku”.

Orang yang diampuni dosanya adalah orang yang sungguh-sungguh mampu menjaga panca indranya dari perbuatan dosa. Olehnya itu jika berpuasa, puasakan juga pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan buruk. Kedua, salat tarawih. Nabi Saw bersabda, “barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salat malam sudah menjadi rutinitas Nabi Saw dan para sahabatnya. Bagi siapa yang melaksanakan salat tarawih hendaknya mengerjakannya secara berjama’ah sehingga akan dicatat dalam golongan qaimin. Ketiga, bersedekah. Rasulullah saw adalah manusia paling dermawan dan Nabi lebih demawan lagi ketika di bulan Ramadan.

Sedekah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dalam menunaikannya sesuai kemampuan. Amalan terbaik keempat, bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an. Satu huruf dari Al-Qur’an bernilai 10 pahala. Jadi membaca bismillaahirramaanirrahim saja, berarti sudah bernilai 190 pahala. Kelima, i’tikaf, merupakan ibadah yang didalamnya bermacam- macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Dianjurkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Keenam, memperbanyak dzikir, doa dan istighfar.

Sesungguhnya malam dan siang Ramadan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya, saat berbuka, sepertiga malam terakhir saat Allah turun ke langit dunia, dan di waktu sahur

Ayo kita perbanyak Amalan di bulan yang penih kemuliaan ini :)

Rafika's note

Jumat, 20 Juli 2012

Ramadhan 2012 Menyapa

Ada sekuntum hari
Dimana wanginya mengharumi bumi sepanjang waktu
Karena saat itulah kemahamurahan sang Khaliq berlimpah
Menyatu pada segala inti hidup

Adalah Ramadhan
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfiroh
Gericiknya dzikir dan tadarrus
Tepianya doa lemah lembut, lirih dan berpasrah hati
Siapa tak ingin jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Agar setiap sirip kita tak patah sia-sia

Ia rahasia
Tak sekedar lapar dahaga
Tapi sesungguhnya itulah hakekat cinta
Dan salah satu cara bertegur sapa dengan Alloh
Karena dengan lapar dan haus
Kita bisa lebih menyadari bahwa kita tak berpunya
Bisa lebih memahami
Bahwa kita tak lebih dari sebutir debu
Di antara kemahaluasan-Nya

Ia sepantasnya dirindukan
Karena ia lebih

Di cakrawala bertebar pengampunan, rakhmat
Dan segala kebaikan
Juga nuzulul qur’an dan lailatur qodar

Senin, 16 Juli 2012

Ketika tujuan mati tertekan dan terhambat


Apa yang kalian rasakan ketika tujuan utama kalian sebegitu mudah hilang dan sirna demi kepentingan lain? Dan apa yang kalian rasakan ketika keberadaan dan kemampuan yang kalian punya hanya di anggap kecil (mungkin) orang lain. Yah¸ bahkan saya sempat kecewa dengan apapun yang terjadi dihadapan saya tepatnya dimana saya berdiri disini. Mungkin terlalu banyak pembelajaran yang belum sempat saya pahami. Mungkin pertanyaan mengapa belum dapat saya imbangi dengan penjelasan.

Dan ini bukan mungkin lagi tapi saya harus menerima disetiap kenyataan bahwasannya saya ini manusia yang bergelimang kekurangan hanya saja saya belum mampu merealisasikan kata ‘kekurangan’. Seketika saya merasa down oleh penjelasan yang saya terima. Ketika ada tujuan saya yang sangat saya inginkan tapi sirna karena kepentingan yang lain, seketika itu juga saya merasa seperti ‘robot’. Kali ini untuk kali ini saya harus mundur satu langkah dan menerima walau dalam perasaan yang begitu tertekan kalau saja boleh saya gambarkan.

Perlukah saya menuliskan besar-besar kekecewaan saya terhadap fasilitator saya? Perlukan saya meneriakkan kalau saya ini tertekan. Mungkin saja, kalian bilang ini bukan tindakan diskriminatif tapi perasaan tidak mampu untuk berbohong saya merasakan diskriminatif itu. Lantas apa yang saya harus lakukan terhadap tujuan saya ibarat mimpi yang sangat ingin saya wujudkan, saya  sangat ingin berkontribusi terhadap apa yang saya punya. Bahkan mimpi itu sudah ada dan saya tanamkan sebelum saya ikut himpunan ini, bahkan gambaran perubahan yang melekat di otak sayapun telah saya rangkai dan saya design untuk pengembangan diri saya dan untuk masyarakat kampus. Tapi apa boleh buat kemampuan saya belum dilihat dan dianggap. Lagi, keindahan rencana saya untuk merubah dan berkontribusi hanya saya simpan lekat di dalam pikiran ini dan tinggal di hari yang sangat mengecewakan ini.

Tapi kembali lagi saya ini hanya manusia yang begitu banyak kekurangan, Yah saya harus menerima bahwasannya saya memang tidak pantas untuk ditempatkan pada mimpi saya itu. Mungkin kotribusi dan keinginan saya merubah itu tidak dapat terwujud dan mati bersama tulisan ini. Semoga ini hanya menjadi koma bukan titik. Saya hanya perlu memanjakan hati dengan perasaan jernih dan bertawakal kepada-Nya merubah setiap kekurangan yang ada dan membuktikan kepada mereka yang  menganggap saya tidak bisa dan tidak pantas, menjadi lebih layak dan bisa . Selamat tinggal design perubahan, saya hanya dapat melambaikan tangan dengan keadaan tertekan dan kecewa. 


Rafika Dwi