Minggu, 09 Desember 2012

Penetapan Upah Minimum dalam Kaitannya dengan Perlindungan bagi Tenaga Kerja (Buruh) dan Perkembangan Perusahaan



Oleh : Rafika Dwi H.

Upah menurut pasal 1 angka 30 UU 13/2003 adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atauakan dilakukan.
Secara garis besar upah minimum dibagi menjadi 4 antara lain ; Upah Minimum Propinsi (UMP), Upah Minimum Kabupaten/kota, Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMSprop), dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSkab). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat upahantara lain ; pendidikan dan keterampilan kerja, kondisi pasar kerja, biaya hidup, kemapuan perusahaan membayar biaya produk, kemampuan serikat pekerja, produktifitas kerja, kebijakan dan investasi pemerintah.

Di dalam penetapan upah minimum ada beberapa prosedur yang harus dilalui. Pertama, penetapan upah minimum melalui tahapan survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) oleh Dewan Pengupahan Propinsi/Kabupaten/Kota yang anggotanya terdiri dari unsur Pekerja/Buruh, Pengusaha/ Pemerintah, Pakar dan Akademisi yang telah mengakomodir kepentingan pihak-pihak yang berhubungan langsung dalam hubungan kerja yaitu Pekerja/Buruh dan Pengusaha. Besarnya hasil Survey Kebutuhan Hidup Layak telah disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari bagi pekerja lajang. Kedua, Setelah survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) diketahui besarannya, maka Dewan Pengupahan menyampaikan hasil tersebut kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi Upah Minimum. Gubernur mempunyai wewenang untuk menaikkan atau menurunkan besarnya hasil survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan berbagai pertimbangan sebelum ditetapkan menjadi Upah Minimum. Disamping itu bagi Pengusaha yang tidak mampu melaksanakan Upah Minimum diberi kesempatan untuk mengajukan penangguhan pemberlakuan Upah Minimum.

Penetapan Upah Minimum sangat berkaitan dengan perlindungan bagi tenaga kerja dan perkembangan perusahaan. Dalam hal ini penulis berasumsi bahwa penetapan upah minimum bagi pengusaha merupakan biaya produksi. Oleh karenanya setiap terjadi peningkatan upah berarti akan terjadi peningkatan biaya. Namun dalam manajemen sumber daya manusia upah juga harus dilihat sebagai investasi atau human investment. Sebagai human investmen, kenaikan upah atau kesejahteraan tenaga kerja dapat dilihat sebagai perbaikan atau peningkatan kualitas SDM atau pekerja/buruh, yang hasilnya akan diperoleh kemudian.

Jika ditelisik,  ada beberapa hambatan bagi perkembangan perusahaan diantara lain ; adanya perbedaan tingkat kemampuan dan likuiditas antar perusahaan, meskipun disebut dengan Upah Minimum namun ternyata masih ada perusahaan yang sama sekali tidak mampu melaksanakan ketentuan besarnya Upah Minimum dan apabila dipaksakan akan mengakibatkan penutupan Perusahaan (lock out). Kemudian Akibat adanya penetapan Upah Minimum yang mengharuskan untuk dilaksanakan dan dipatuhi oleh para Pengusaha, akan memaksa terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dikarenakan Perusahaan memandang perlu adanya efisiensi tenaga kerja. Maka demi terciptanya tatanan upah minimum yang baik, perlu lagi ada tinjauan terkait pembagian upah minimum.  Wajar jika kita mempertanyakan sistem pengupahan di Indonesia masih belum berjalan dengan baik. Keterlibatan semua pihak yang terkait dengan Hubungan kerja maupun Hubungan industrial, diharapkan mampu mengakomodir kepentingan seluruh pihak sehingga Upah Minimum yang akan ditetapkan kemudian dapat memberikan perlindungan baik bagi pekerja/buruh maupun pengusaha. Agar  perusahaan yang ada di Indonesia dapat berkembang dengan baik pula.






Selasa, 11 September 2012

Arti Menjadi Mahasiswa

SELAMAT datang mantan siswa sekolah menengah atas atau yang biasa di sebut SMA, selamat menginjak di universitas masing-masing. Status anda bukan lagi sebagai siswa tetapi anda telah menyandang gelar mahasiswa. 

Mahasiswa adalah cerminan intelektualitas suatu bangsa. Merupakan agent of change yaitu agen perubahan dalam dinamika suatu kehidupan. Juga merupakan jembatan kepentingan yang menyertakan masyarakat, pemerintah, teknologi, dan budaya. Kita adalah para pencetus bangsa yang nantinya akan menggantikan posisi pemimpin bangsa. Kita adalah pilar-pilar di masa yang akan mendatang. Tugas kita tidak hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan IP (index prestasi) yang tinggi tetapi juga memikirkan bagaimana kita menciptakan suatu revolusi agar tanah air ini semakin maju. Kita sebagai sember daya manusia yang terpelajar harusnya sadar akan kepentingan negara kita yang sudah semakin merangkak. Seharusnya dari posisi merangkak itu kita bisa berdiri tegak dan berjalan bahkan berlari mengejar ketertinggalan kita dari negara lain tanpa meninggalkan syariat ajaran agama kita.

Pertanyaannya, Apakah kalian termasuk para pejuang yang memikirkan nasib kedepan tanah air ini? Apakah kalian termasuk para pejuang yang mempunyai gerakan intelektualitas? Jika kalian merasa di butuhkan dan butuh perubahan, maka jangan hanya mau menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Jangan hanya pandai berkomentar, kalau pemerintah zaman sekarang hanya mampu menelan uang rakyat. Jangan hanya mencemooh pemerintah ketika negara kita termasuk salah negara miskin. Seperti yang telah di sebutkan di atas kita adalah agent of change. Untuk itu perlunya mahasiswa yang care di butuhkan di negara kita yang semakin tumbuh ini. Untuk itu apa gunanya kita sebagai mahasiswa yang terpelajar adalah untuk mengganti peran pemimpin. Untuk merubah dari yang buruk menjadi lebih baik. 

Ketika kalian berada di dunia kampus, kalian akan mengenal bagaimana jenis-jenis mahasiswa. Kalian akan pandai menilai dengan sendirinya. Untuk itu kalian harus mempunyai jiwa yang peka terhadap sesama. Karena apa? yang di khawatirkan saat ini adalah sedikitnya kita yang kurang perduli terhadap organisasi. Yang semakin mengkhawatirkan jika mahasiswa itu hanya kuliah-pulang, kuliah-tidur, kuliah-main, kuliah-nonton, kuliah-pacaran, kuliah-ke mall. Kalau hanya itu apa artinya menjadi mahasiswa?

Jarang kita temukan mahasiswa yang peduli dengan keadaaan sekitar, keadaan negara, bahkan pemerintah. Tindakan masa bodoh telah menjalar sampai ke akar-akar saraf sebagian mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengahabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat sama sekali. Main bilyard, jalan-jalan menghabiskan uang, bahkan ada yang sampai ke club-club malam. Apakah itu yang patut kita banggakan? Apakah orang yang seperti itu yang akan menggati posisi para elit bangsa? Kalau iya, kapan krisis kepemimpinan bangsa kita akan berakhir?

Ayo rubahlah kebiasaan buruk kita yang hanya memikirkan kesenangan pribadi. Banyak wadah di kampus yang menyediakan kalian untuk belajar, berproses, menjalin kerjasama dan membangun ukuwah. Setidaknya social networking kita antar mahasiswa dapat terbina dan menciptakan mahasiswa dengan pemikiran intelektual yang mementingkan kepentingan bersama. Itulah arti dari mahasiswa yang sebenarnya.  YAKUSA !


Selasa, 31 Juli 2012

Manusia


"Manusia yang sedang berbicara tentang masalah orang lain sesungguhnya mereka juga bagian dari masalah tersebut "-Imam Zudin-

Benar terkadang manusia itu banyak lupanya. Manusia itu selalu khilaf atas pola pikir mereka yg salah. Terkadang sesuatu yg mereka anggap benar belum tentu benar adanya. Sesuatu yang mereka anggap salah belum tentu juga salah.

Sebagai manusia yang selalu banyak berbuat kesalahan saya termasuk bagian dari orang yang tersebut. Tapi setiap proses mengajarkan saya untuk melihat dan memilah permasalahan yang ada. Tidak saya pungkiri  terkadang apa yang saya anggap benar belum tentu benar di mata yang lain.

Saya sungguh tersentak oleh kalimat yang dikatakan oleh Imam Izudin, saya seperti dibukakan pemikiran baru. Sebuah pemikiran yg kalau saya pikir itu benar. Siapapun itu, yang pernah membicarakan orang lain sesungguhnya mereka juga terlibat dalam masalah tersebut. Dalam kilaf mata apa yang kita lihat dan dengar itu sudah jadi bagian dalam proses hidup kita. Begitu juga masalah. Saya mengerti sebuah kemajuan hati dan iman itu tak bisa didapatkan semudah apa yang kita pikirkan . Tapi hati yang bersih itu butuh pemikiran pelajaran ujian lalu hasil yg kita dapat. Jadi semua itu butuh prosess. Untuk menjadi pribadi yg baik juga butuh proses. Manusia yg pribadinya baik dulu pasti pernah melakukan kesalahan namun dia belajar dari kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi dan menjadi yang lbih baik.

Semoga kita bisa belajar dan terus belajar untuk mencintai kebaikan orang lain. Dan membicarakan kebaikan orang lain. Karena menjelekkan dan menjerumuskan seseorang adalah perbuatan syaitan :)


Rafika's note

Sabtu, 28 Juli 2012

Realita Umat Islam

SEBAGAI sebuah entitas, umat Islam dihadapkan dengan  kenyataan dilematis. Di satu sisi, semangat berislam di berbagai penjuru dunia terlihat begitu hangat, namun di sisi lain, umat Islam juga menghadapi berbagai tantangan yang cukup rumit. Betul kita memiliki potensi yang sangat dahsyat, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita terkadang—untuk tidak dikatakan sering—kehilangan kebanggaan akan peradaban kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa koreksi.

Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang kebangkrutan Barat.
Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis, Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, “dibangun untuk manusia”. Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah Kebodohannya, mengatakan,  “peradaban Barat hanya berorientasi pada benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya”.

Lagi-lagi, sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya ’rendahan’ Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleksi, koreksi dan sikap kritis. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil hikmah peradaban Barat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Masih dalam konteks yang sama, kita justru sering menutup mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia. Salah satu fenomenalnya peradaban Islam yang diceritakan oleh berbagai sumber sejarah adalah Islam hadir dan mampu menyelamatkan dunia pada abad pertengahan ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age.

Mengenai kemerosotan umat Islam, Rasulullah Saw. memberikan isyarat dalam sebuah hadits beliau. Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw. menjawab,“Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari). Dan Allah Swt. akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw., apakah wahn itu?”Beliau menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad)

Di saat masyarakat atau dunia Islam di seluruh pelosok negeri menderita kerusakan dan kelemahan dalam berbagai bidang kehidupan, para penguasa muslim terjebak dalam kubangan kekuasaan tiranik dan diktatoris. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menginspirasi terjadinya pertumpahan darah antara sesama muslim. Penyebabnya adalah cinta dunia berupa tahta, harta dan wanita serta takut mati. Hal ini terjadi pada beberapa dekade, termasuk zaman perang Salib. Bahkan menurut Majid Irsan Kailani, beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat muslim yang mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa tersebut dicatat oleh Ibnu Jauzi dalam buku sejarahnya al-Muntazham dan Ibnu al-Atsir juga sejarawan lainnya.

Jadi pada realitanya umat Islam sudah terlalu jauh jatuh kedalam pangkuan bangsa Barat saat ini, umat Islam sudah tidak lagi mengedepankan syariat dan amalan yang sebenarnya. Karena semakin majunya zaman ini, semakin umat Islam ikut terpuruk dan semakin terjerumus. Tak lain halnya kekuasaan dan tahta telah membutakan mata hati. Kita telah kehilangan esensi kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, kita seakan tahu itu api kita pura-pura buta. Akankah kecintaan kita terhadap dunia ini mengalahkan tujuan yang sebenarnya, yaitu Allah dan akhirat.

Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan is Coming


Sebagai umat muslim yang di sayangi Allah, bukankah bulan-bulan diantara bulan lain Ramdahanlah yang paling di tunggu-tunggu? YA, begitulah jawaban yang paling pantas untuk kita.

"Maka tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbukalah pintu-pintu di syurga".. Tak heran banyak orang-orang yang beriman bernafsu baik untuk mengerjakan amalan dan mengumpulkan pahala-pahala sebanyak mungkin.

Jangan pernah berfikir bahwa Ramadhan adalah bulan yang bikin sengsara, maka berbaliklah berfikir bahwa kemuliaan Allah berlimpah di bulan ini.
Mengapa masih sempat ada yang berfikir bulan Ramadhan adalah bulan sengsara? Apa karna kita gak bisa sarapan pagi? atau makan siang? terlebih lagi bagi ikhwan yang tidak bisa merokok? Rasakanlah dibalik semua itu ada nikmat tersembunyi ketika kita mengerjakannya dengan ikhlas.

Ya Ramadhan bulan yang di muliakan Allah, bukan bulan penderitaan.. Bulan penuh barokah dan bulan yang penuh cinta.. Maka perbanyaklah amalan ibadah.

 Beberapa amalan terbaik yang dapat dilakukan pada bulan Ramadan, antara lain, Pertama, berpuasa. Allah Swt berfirman, “Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku”.

Orang yang diampuni dosanya adalah orang yang sungguh-sungguh mampu menjaga panca indranya dari perbuatan dosa. Olehnya itu jika berpuasa, puasakan juga pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan buruk. Kedua, salat tarawih. Nabi Saw bersabda, “barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salat malam sudah menjadi rutinitas Nabi Saw dan para sahabatnya. Bagi siapa yang melaksanakan salat tarawih hendaknya mengerjakannya secara berjama’ah sehingga akan dicatat dalam golongan qaimin. Ketiga, bersedekah. Rasulullah saw adalah manusia paling dermawan dan Nabi lebih demawan lagi ketika di bulan Ramadan.

Sedekah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan, maka bersegeralah dalam menunaikannya sesuai kemampuan. Amalan terbaik keempat, bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an. Satu huruf dari Al-Qur’an bernilai 10 pahala. Jadi membaca bismillaahirramaanirrahim saja, berarti sudah bernilai 190 pahala. Kelima, i’tikaf, merupakan ibadah yang didalamnya bermacam- macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Dianjurkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Keenam, memperbanyak dzikir, doa dan istighfar.

Sesungguhnya malam dan siang Ramadan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya, saat berbuka, sepertiga malam terakhir saat Allah turun ke langit dunia, dan di waktu sahur

Ayo kita perbanyak Amalan di bulan yang penih kemuliaan ini :)

Rafika's note

Jumat, 20 Juli 2012

Ramadhan 2012 Menyapa

Ada sekuntum hari
Dimana wanginya mengharumi bumi sepanjang waktu
Karena saat itulah kemahamurahan sang Khaliq berlimpah
Menyatu pada segala inti hidup

Adalah Ramadhan
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfiroh
Gericiknya dzikir dan tadarrus
Tepianya doa lemah lembut, lirih dan berpasrah hati
Siapa tak ingin jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Agar setiap sirip kita tak patah sia-sia

Ia rahasia
Tak sekedar lapar dahaga
Tapi sesungguhnya itulah hakekat cinta
Dan salah satu cara bertegur sapa dengan Alloh
Karena dengan lapar dan haus
Kita bisa lebih menyadari bahwa kita tak berpunya
Bisa lebih memahami
Bahwa kita tak lebih dari sebutir debu
Di antara kemahaluasan-Nya

Ia sepantasnya dirindukan
Karena ia lebih

Di cakrawala bertebar pengampunan, rakhmat
Dan segala kebaikan
Juga nuzulul qur’an dan lailatur qodar

Senin, 16 Juli 2012

Ketika tujuan mati tertekan dan terhambat


Apa yang kalian rasakan ketika tujuan utama kalian sebegitu mudah hilang dan sirna demi kepentingan lain? Dan apa yang kalian rasakan ketika keberadaan dan kemampuan yang kalian punya hanya di anggap kecil (mungkin) orang lain. Yah¸ bahkan saya sempat kecewa dengan apapun yang terjadi dihadapan saya tepatnya dimana saya berdiri disini. Mungkin terlalu banyak pembelajaran yang belum sempat saya pahami. Mungkin pertanyaan mengapa belum dapat saya imbangi dengan penjelasan.

Dan ini bukan mungkin lagi tapi saya harus menerima disetiap kenyataan bahwasannya saya ini manusia yang bergelimang kekurangan hanya saja saya belum mampu merealisasikan kata ‘kekurangan’. Seketika saya merasa down oleh penjelasan yang saya terima. Ketika ada tujuan saya yang sangat saya inginkan tapi sirna karena kepentingan yang lain, seketika itu juga saya merasa seperti ‘robot’. Kali ini untuk kali ini saya harus mundur satu langkah dan menerima walau dalam perasaan yang begitu tertekan kalau saja boleh saya gambarkan.

Perlukah saya menuliskan besar-besar kekecewaan saya terhadap fasilitator saya? Perlukan saya meneriakkan kalau saya ini tertekan. Mungkin saja, kalian bilang ini bukan tindakan diskriminatif tapi perasaan tidak mampu untuk berbohong saya merasakan diskriminatif itu. Lantas apa yang saya harus lakukan terhadap tujuan saya ibarat mimpi yang sangat ingin saya wujudkan, saya  sangat ingin berkontribusi terhadap apa yang saya punya. Bahkan mimpi itu sudah ada dan saya tanamkan sebelum saya ikut himpunan ini, bahkan gambaran perubahan yang melekat di otak sayapun telah saya rangkai dan saya design untuk pengembangan diri saya dan untuk masyarakat kampus. Tapi apa boleh buat kemampuan saya belum dilihat dan dianggap. Lagi, keindahan rencana saya untuk merubah dan berkontribusi hanya saya simpan lekat di dalam pikiran ini dan tinggal di hari yang sangat mengecewakan ini.

Tapi kembali lagi saya ini hanya manusia yang begitu banyak kekurangan, Yah saya harus menerima bahwasannya saya memang tidak pantas untuk ditempatkan pada mimpi saya itu. Mungkin kotribusi dan keinginan saya merubah itu tidak dapat terwujud dan mati bersama tulisan ini. Semoga ini hanya menjadi koma bukan titik. Saya hanya perlu memanjakan hati dengan perasaan jernih dan bertawakal kepada-Nya merubah setiap kekurangan yang ada dan membuktikan kepada mereka yang  menganggap saya tidak bisa dan tidak pantas, menjadi lebih layak dan bisa . Selamat tinggal design perubahan, saya hanya dapat melambaikan tangan dengan keadaan tertekan dan kecewa. 


Rafika Dwi

Sabtu, 30 Juni 2012

Siapkah Kita Menghadapi 4 Pertanyaan di Padang Mahsyar?



Setiap manusia wajib mengimani hari akhir atau hari kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadist-hadist sahih di terangkanlah bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang dalam kubur di bangkitkan dan akan menghadapi peristiwa tsb? Apa saja yang terjadi pada saat itu?

Pada saat itu manusia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah subhanahuwata'ala tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini.

Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfa'at apa yang dibanggakan selama hidup di dunia ini. Pada hari itu hanya ada Penguasa tunggal yaitu Allah subhanahuwata'ala yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat itu sebaik - baiknya dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Karena Allah telah mengkaruniakan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangat wajar apabila Ia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam sebuah hadist mengatakan (sabda Rasulullah saw) : "Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shirathal mustaqim) sehingga ia di tanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan dikemanakan ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan." (HR Sahih Turmizi dan Ad Damiri).

1. UMUR

Umur adalah sesuatu yang tidak lepas dari manusia. Bila kita berbicara tentang umur, maka berarti kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Alqur'an telah bersumpah degnan waktu : " Demi masa", maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu yang di berikan Allah adalah 24 jam dalam sehari semalam. Untuk apa waktu itu kita gunakan ? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk hal yang sia-sia.

Diantara sebab-sebab kemunduran ummat Islam ialah bahwa mereka tidak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfa'at, sebagian waktunya digunakan untuk bergurau, mengobrol hal - hal yang tak berguna bahkan terkadang membawa kepada perdebatan yang tak berarti hingga membawa keperkelahian. Sementara orang-orang kafir menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka maju di dalam segala bidang kehidupan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keadaan ummat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada diantara mereka yang tidak mengerti ajaran agamanya dan tidak mengerti ilmu pengetahuan umum.

Bahkan ada diantara mereka yang buta baca tulis Alqur'an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal (pekerjaan/ilmu), maka seharusnya kita bertanya kepada diri masing-masing; Sudah berapa umur kita hari ini dan apa yang sudah kita ketahui tentang Islam, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini? Janganlah kita termasuk orang-orang yang lalai dan merugi.

Umur tidak terasa berjalan merayapi kehidupan kita. Tanpa kita sadari, sekejap saja umur kita telah tertinggal jauh, yang tersisa hanya beberapa tahun saja atau beberapa hari bahkan beberapa detik saja.

Kemarin kita masih dimanja-manja, bermain tertawa bebas - sedikit bergembira dan banyak mengalami kesusahan dalam menjalani perputaran kehidupan di dunia ini, lalu berkeluarga dan tiba-tiba kita telah menggenapi diatas puluhan tahun dan menanti hari ketiadaan kita di dunia ini seperti semula.

Apakah akan kita sia-siakan umur yang bagai KERCAPAN MATA ini untuk hal-hal yang hanya akan merugikan kita di dunia maupun di hari akhir kelak ?

2. ILMU

Yang membedakan antra muslim dan non muslim adalah ilmu dan amal. Orang muslim berbeda amaliahnya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermuamalah (hubungan dalam bermasyarakat), berperilaku dll. Seorang muslim di perintahkan oleh Allah dan rosul-Nya agar menuntut ilmu. Allah berfirman :

"Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" ( Az Zumar : 9)

Ayat diatas kendatipun berbentuk pertanyaan tetapi mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu hukumnya wajib (ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat) atas setiap individu muslim, misalnya ilmu agama : tentang membersihkan najis, berwudhu yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang di laksanakan setiap hari. Ilmu keduniawian : belajar menuntut ilmu tiada batasan umur dan wajib di amalkan (di terapkan) untuk kelangsungan hidup dan kemaslahatan sesama manusia. Karena ia tidak tahu, maka amalannya akan tertolak, dan Allah akan bertanya kepadanya kenapa ia mengikuti apa yang ia tidak ketahui, seperti dalam firman-Nya : 

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati. semuanya itu akan di minta pertanggungjawabannya ". (Al Isra' : 36).

Ilmu yang sudah dipelajari oleh ummat Islam harus di gunakan untuk kepentingan Islam dan sesama manusia. Ilmu yang sudah di tuntut dan di pelajari wajib di amalkan menurut syari'at (aturan/ajaran) Islam. Ilmu tidak akan berarti apa apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila manusia mengamalkannya, rosulullah saw bersabda : 

"Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap tiap orang dimudahkan menurut apa apa yang Allah ciptakan atasnya". ( HR Muslim)

Akal fikiran diberikan untuk di pergunakan pada tempatnya, yaitu menuntut ilmu. Baik Ilmu duniawi maupun ilmu ukhrawi. Menuntut ilmu tidak mengenal umur, waktu atau tempat. Sudahkah kita menggunakan akal fikiran yang Dia limpahkan ini pada hal-hal yang berguna baik bagi diri maupun orang sekitar kita ?

Allah ta'ala telah melimpahkan umur,akal fikiran dan pengetahuan, mengapa kita tidak mencarinya? Jadi tiada alasan yang bisa di terima Allah pada waktu hari penghisaban kelak bagi umat-Nya. Janganlah kita termasuk umat yang menyesal di kemudian hari.

3. HARTA

Rasulullah saw bersabda, "Bagi tiap tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta ". (HR Turmizi dan Hakim).

Harta pada hakikatnya adalah milik Allah. Harta adalah amanat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia agar ia mencari harta itu dengan halal, menggunakan harta itu pada tempat yang telah di tetapkan dalam syari'at Islam.

Bila kita amati keadaan umat Islam kini, banyak kita dapati diantara mereka yang tidak lagi peduli dengan cara mengumpulkan hartanya apakah dari jalan yang dihalalkan atau yang di haramkan dalam syari'at Islam '. Rosulullah saw telah meramalkan hal ini dengan sabdanya : 

"Nanti akan datang suatu masa; di masa itu manusia tidak perduli dari mana harta itu di peroleh, apakah dari yang haram atau yang halal ". (HR Bukhari).

Setiap muslim harus hati-hati dalam mencari mata pencaharian hidupnya karena manusia yang terdesak dalam masalah ekonomi lalu ia menjadi kalut hingga tidak peduli lagi harta itu dari mana ia peroleh. Ada harta yang di perolehnya dari usaha-usahanya yang batil, misal ; hutang tidak di bayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dlsb.

Orang mencari usaha dari yang haram akan mendapat siksa Allah, seperti yang disabdakan Rosulullah saw : 

"Barang siapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih patut baginya (sebagai tempatnya) ". ( HR Al Hakim)

Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita infakkan pada jalan yang benar pula. Bila tadi di sebut harta itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Di dalam Alqur'an ada delapan golongan yang berhak mendapat zakat, yaitu para fuqara (orang faqir), masakin (orang miskin), amil (pengurus zakat), mu'allaf (orang yang baru masuk Islam), untuk membebaskan budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah dan orang-orang yang sedang ada dalam perjalanan jauh (musafir). Pada masa sekarang ini ada tiga golongan yang di prioritaskan yang berhak mendapatkan infaq dan sadakah, yaitu golongan fuqara, masakin dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Orang faqir adalah orang yang membutuhkan/mempunyai kebutuhan hidup tetapi tidak mempunyai pekerjaan sedangkan hidupnya di gunakan untuk membantu agama Islam. Jadi orang faqir ialah orang yang hidupnya untuk berjuang di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha tetapi usahanya hanya bisa mencukupi kebutuhan minimal dalam keluarganya saja (makan sehari-hari).

4. BADAN

Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna yang di ciptakan Allah di muka bumi ini. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang di berikan Allah, manusia di jadikan sebagai khalifah di muka bumi ini, manusia di bebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani manusia ini di tuntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam rangka mengabdi kepada Allah.

Letihnya manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah akan di ganjar dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka main-main, mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak pernah di contohkan rosul Allah saw, maka sia-sialah letihnya itu, bahkan ada yang di ganjar dengan api neraka, karena mereka termasuk orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda nabi Allah saw : 

"Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat, dan tiap-tiap semangat ada masa lelahnya maka barangsiapa lelah dan letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barang siapa letihnya bukan karena melaksanakan sunnahku, maka dia termasuk orang yang binasa ". (HR Al Hakim dan Al Baihaqi).

Begitulah, pada hari mahsyar masing-masing manusia akan di minta pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang telah di kerjakan selama hidupnya di dunia ini. Sudah siapkah kita menjawab pertanyaan - pertanyaan yang akan di tanyakan kepada kita pada saat itu ? Kalau belum, kapan lagi kita mempersiapkan diri kalau tidak sekarang ? Kita tidak tahu kapan giliran kita dipanggil, tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok, nanti malam, 1 jam lagi atau beberapa menit lagi. Wallahu'alam...


Oleh Yazid Abdul Qadir Jawas

Sabtu, 02 Juni 2012

Siapakah Pemimpin Anda, Raja atau Khalifah?


Ibnu Saad meriwayatkan bahwa Sufyan bin Abi Auja berkata bahwa suatu kali Umar Ra berkata, “Demi Allah, Aku tidak tahu apakah aku ini khalifah atau Raja? Seandainya aku seorang raja, maka itu merupakan sesuatu yang hebat!”

Lalu seseorang berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, ada perbedaan antara khalifah dan raja. Khalifah hanya mengambil berdasarkan yang hak dan meletakkannya pada yang hak. Alhamdulillah, engkau demikianlah adanya. Sementara raja bertindak semena mena terhadap orang orang, merampas harta dari si fulan dan menyerahkan ke si fulan lainnya semaunya,” setelah mendengar itu Umar terdiam.

Umar Ra bertanya kepada Salman Ra, “ Apakah aku ini seorang raja atau khalifah?”

Salman menjawab,” Jika engkau memungut pajak dari hasil bumi kaum muslimin senilai satu dirham saja atau kurang dari itu atau lebih, kemudian engkau peruntukkan pada yang bukan haknya, maka engkau adalah seorang raja, dan bukan khalifah.

…..

Rasulullah SAW telah meletakkan kepada manusia, sesuai perintah Allah SWT, mengenai syariat dalam perkara harta benda, mustahil ditemui lebih adil dari sistem Islam. Dengan berdasarkan kepada syariat Islam, maka harta benda seseorang tidak akan dipungut Negara kecuali dengan jalan yang adil, dan seseorang pun akan memiliki sesuatu harta benda dengan cara yang hak dan adil pula.

Sebelum muncul syariat ini, didunia tidak pernah muncul satu teori pun yang adil dan relevan untuk mengatur perkara hak milik ini, tidak satupun dijumpai teori hukum yang adil pula mengenai perpajakan.

Ketahuilah moto para pemerintah sebelum Islam (Jahiliyah) adalah Pajak, sementara moto pemerintahan Islam adalah Hidayah berupa optimalisasi zakat.


Dr Alfred J Butler menulis tentang pemerintahan Romawi di Mesir; 

“Pemerintahan Romawi di Mesir tidak punya sasaran lain kecuali merampas harta benda milik rakyat untuk disajikan kepada penguasa sebagai harta rampasan. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk menjadikan pemerintahan sebagai sarana mewujudkan kemakmuran rakyat, meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, mendidik SDM nya atau memperbaiki urusan sumber sumber rezeki mereka. Corak pemerintahan orang orang asing yang hanya mengandalkan kekerasan dan tidak pernah mengenal rasa belas kasihan kepada rakyat yang dipimpinnya.”

Beliau juga menulis tentang kondisi Persia selama dibawah dinasti Sassania, Para pemungut pajak itu tidak jauh dari tipu daya dan merampas harta benda rakyat dalam menaksir pajak pajak yang harus ditunaikan. Apa yang pernah dilakukan Kisra Anussyirwan dalam merenovasi sistem keuangan pada zamannya, lebih menguntungkan kepentingan keuangan istana daripada kepentingan rakyatnya. 

Rakyat jelata masih terus hidup dalam kebodohan dan kemelaratan seperti sebelumnya. Terlebih lagi kaum petani yang mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang kelewat batas. Para petani tidak diizinkan pindah dari ladang ladang kaum bangsawan, dipekerjakan dengan kecil, serta dibebani semua pekerjaan berat.

Begitulah bila pajak diberlakukan untuk kaum Muslimin, sebagai salah satu indikasi dan memperjelas bahwa siapakah pemimpin itu adalah berperan sebagai Khalifah Allah atau hanyalah seorang raja, seperti raja raja yang telah berlalu tanpa memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. 


Jumat, 18 Mei 2012

Surga dan Neraka Ad-Dajjal


Ketika fitnah Al-Masih Ad-Dajjal keluar ke tengah ummat manusia di Akhir Zaman ia akan membawa surga dan nerakanya sendiri. Surganya adalah neraka sedangkan nerakanya adalah surga. Nabi Muhammad (SAW) memberitahu kita agar selamat menghadapi neraka Ad-Dajjal, maka seorang muslim mesti menghafal dan membaca sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi.

“Di antara fitnah-fitnah (Ad-Dajjal) adalah, bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Barangsiapa mendapatkan cobaan dengan nerakanya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan hendaklah ia membaca ayat-ayat di awal surah Al Kahfi. (HR Ibnu Majah – Shahih)
Nabi Muhammad (SAW) bersabda:
"Barangsiapa menghafal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, maka ia akan terpelihara dari (kejahatan) Ad-Dajjal." (HR Muslim – Shahih)
Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم berpesan;

“Di antara fitnah-fitnah (Ad-Dajjal) adalah, bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” 

Berarti Ad-Dajjal sanggup membolak-balik realita. Apa yang sesungguhnya bakal mengantarkan seseorang menuju neraka malah terlihat seperti surga. Sedangkan apa-apa yang bisa mengantarkan seseorang ke surga malah dibuat seperti neraka. Apa yang benar dibuat terlihat salah. Apa yang salah dibuat menjadi seperti benar.
Jangankan sesudah Dajjal keluar ke tengah-tengah manusia, sedangkan saat sekarang saja dimana Dajjal belum keluar sudah banyak manusia yang berhasil tertipu melihat realitas. Benar-benar terasa bahwa dunia modern dikelola oleh para pendukung dan penyambut Dajjal. Mereka berusaha membangun opini umum yang terbalik-balik. Dunia modern telah membentuk diri menjadi sebuah Sistem Dajjal menanti dan menyambut keluarnya Dajjal untuk segera dinobatkan menjadi pemimpin globalnya. Inilah hakikat the New World Order (Tatanan Dunia Baru) alias Novus Ordo Seclorum. Ia merupakan sebuah Sistem Dajjal..!
Mereka berusaha memperlihatkan bagaimana para selebritis yang gemar bermaksiat menjadi figur-figur idaman yang dielu-elukan oleh masyarakat. Berbagai tayangan di televisi dan media lainnya berlomba menggosipkan kehidupan pribadi para artis dan selebritis sehingga mereka dikagumi. 
Padahal apa yang diberitakan tentang mereka pada hakikatnya adalah kehidupan yang sungguh tidak bernilai bahkan penuh kerusakan moral dan perilaku. Tidak ada nilai keteladanan yang bisa dibanggakan dari kehidupan para selebritis ahli maksiat itu. Kehidupan diwarnai gonta-ganti pacar. Kawin-cerai lalu kawin-cerai lagi. Berpakaian mengumbar aurat ke sana kemari. Keterlibatan mengkonsumsi narkoba. Kehidupan malam dunia gemerlap. Tetapi semua itu diopinikan sebagai kehidupan modern yang keren dan penuh kebahagiaan.

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:

“Hampir saja orang hina putra orang hina mengalahkan dunia.” (HR Ahmad – Shahih)

Hadits di atas menerangkan bahwa sudah dekat waktunya dimana yang meraih kesuksesan di dunia adalah orang hina putra orang hina. Itulah mereka para selebritis dan para artis yang diopinikan oleh media-massa dunia modern sebagai orang-orang yang bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan dunia.

Mereka berusaha menyebarluaskan nilai-nilai LG (lesbian dan gay) ke tengah masyarakat luas. Nilai-nilai sexual menyimpang tersebut digambarkan sebagai perkara biasa dan lumrah. Malah mereka membangun opini di tengah masyarakat luas bahwa menjadi lesbi atau gay adalah sebuah pilihan hidup yang sah-sah saja. Alasan mereka adalah HAM (hak asasi manusia). Hendaknya setiap orang diberikan kebebasan untuk mencintai siapa saja dan jenis kelamin apa saja yang dia sukai. 
Jika seorang lelaki menyukai lawan jenisnya yaitu perempuan, maka seorang lelaki hendaknya diperbolehkan juga menyukai sesama lelaki dan bahkan menikahinya. Demikian pula seorang perempuan. Bila perempuan suka dengan dengan lawan jenisnya yaitu lelaki, maka hendaknya ia dimaklumi dan diberi kebebasan juga untuk menyukai sesama jenis kelamin perempuan bahkan menikahinya.
Padahal Islam memberikan ketentuan yang sangat tegas dalam persoalan ini. Nabi Muhammad (SAW) bersabda:
"Siapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah; pelaku dan pasangannya." (HR Abu Dawud – Shahih)

Mereka berusaha menggambarkan bahwa suatu transaksi yang melibatkan praktek riba adalah hal biasa. Bahkan itulah salah satu bentuk normal berjual-beli. Sehingga banyak orang memandang ringan menerima atau memberi bunga di dalam suatu transaksi. Padahal jelas-tegas Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah 275)

Mereka ingin menggambarkan bahwa mengikuti suara rakyat sama dengan mengikuti suara Tuhan. Padahal sudah jelas sangat berbeda antara tunduk dan mengakui kedaulatan rakyat dengan tunduk dan mengakui kedaulatan Allah SWT...! Bila tunduk dan mengakui kedaulatan rakyat maka berakibat harus siap mentaati hukum dan aturan produk manusia. Sedangkan tunduk dan mengakui kedaulatan Allah SWT  berakibat hanya mau mentaati hukum dan aturan Allah SWT semata dan menolak untuk mentaati hukum produk manusia. Sehingga Allah SWT berfirman:

“... dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah (yaitu hukum Allah), dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 49-50)

Semua contoh kasus di atas merupakan realitas yang dibolak-balik oleh para pengelola dan pendukung Tatanan Dunia Baru alias Sistem Dajjal. Mereka kemudian berusaha meyakinkan bahwa inilah surga yang mereka tawarkan kepada manusia. Menjadi artis dan selebritis yang hidupnya bergelimang maksiat. 
Menjadi lesbi atau gay yang merdeka sepenuhnya untuk mencintai dan berhubungan intim dengan sesama jenis kelamin. Menikmati riba sebagai jalan pintas untuk sukses dalam bidang keuangan, bisnis dan ekonomi. Menjadi seorang penganjur bahkan pejuang demokrasi yang dengan ringannya mencampakkan keadilan hukum Allah SWT seraya berkhayal akan hadirnya keadilan hukum (jahiliyah) produk manusia..!

Semua itu merupakan surga dunia yang mereka tawarkan kepada umat manusia. Surga dunia yang bila diikuti berarti memastikan diri bakal masuk ke dalam neraka akhirat..! Jika kita tinggalkan itu semua justeru berarti kita memilih surga akhirat walau terasa seolah memasuki neraka dunia. 

Hidup bebas maksiat, menikah secara normal, bebas riba dan hanya menjunjung tinggi kedaualatan Allah SWT bukan selainnya, maka itu semua justeru memastikan seseorang sedang menempuh perjalanan menuju surga akhirat, yaitu surga Allah SWT dan meninggalkan surga Dajjal dan Sistem Dajjal. Itulah jalan untuk memastikan bebasnya seseorang dari neraka Allah SWT walau harus kehilangan peluang menikmati surga Dajjal, bahkan harus bersabar di dalam neraka Dajjal.

Pilihan ada pada setiap individu. Silahkan anda pilih, tidak ada paksaan di dalam beragama. Sungguh telah jelas jalan yang lurus dari jalan yang bengkok. Masing-masing orang harus berdiri sendiri-sendiri di hadapan Allah SWT di Hari Pengadilan kelak mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya sewaktu di dunia.

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (QS Al-Kahfi 29)

oleh Ustadz Ihsan Tanjung, Artikel : Ermus